- Tradisi "maleman" atau bakar lampu jojor dilaksanakan masyarakat Lombok pada malam-malam ganjil Ramadan untuk menyambut Lailatul Qadar.
- Lampu jojor terbuat dari bahan seperti kemiri, kacang, kapas, dan kadang oli, lalu ditancapkan di rumah atau beras zakat fitrah.
- Di Desa Sembung, Lombok Barat, tradisi ini khusus dirayakan pada malam ke-27 Ramadan bersamaan dengan peringatan Nuzulul Qur'an.
SuaraBali.id - Pada 10 malam terakhir di bulan puasa ramadan, ada tradisi yang masih kental dan terus dilestarikan oleh masyarakat di Pulau Lombok.
Khususnya pada malam-malam ganjil bulan puasa ramadan. Tradisi itu disebut dengan “maleman atau sedut dile jojor” atau bakar lampu jojor.
Hal ini dilakukan untuk memperingati malam nuzulul Qur'an dan menyambut malam lailaut qadar.
Dile jojor ini terbuat dari kemiri, kacang, yang disangrai kemudian ditambahkan kapas dan kadang-kadang pakai oli.
Baca Juga:Urban&Co Bagi-Bagi Uang Tunai Rp250.000 Lewat Challenge Tebak Gambar Ramadan
Kadang ada yang membuatnya dari biji jamplung yang disangrai dan ditambahkan kapas kemudian dililitkan di sebilah kecil bambu sehingga berbentuk seperti sate.
Warna dile jojor ini hitam pekat.
Masyarakat di Pulau Lombok salah satunya di Kabupaten Lombok Barat masih tetap menjaga tradisi “maleman” tersebut. Biasanya mulai digelar pada malam 21, 23, 25, 27 dan 29 ramadan.
Di Desa Sembung Kecamatan Narmada Kabupaten Lombok Barat biasanya merayakan maleman pada setiap tanggal 27 bulan Ramadan.
Salah seorang tokoh masyarakat di Desa Sembung Bambang Suharja Jum’at (16/3/2026) mengatakan, setiap malam 27 Ramadan warga Desa Sembung merayakan tradisi “maleman”.
Tradisi maleman juga dirangkaikan dengan Nuzulul Qur’an dan kegiatan keagamaan lainnya.
Baca Juga:Promo THR Spesial dari Alfamart, Pastikan Stok Sirup Anda Aman!
Perayaan maleman ini untuk menyambut malam Lailatur Qadar atau yang disebut lebih baik dari seribu bulan.
Selain bakar dile jojor, masyarakat juga rangkaikan dengan zikir dan doa bersama di surau, musala atau masjid dan terakhir makan bersama.
“Kalau acara maleman disini itu juga ada Nuzulul Qur’an. Tradisi warga di Desa Sembung pada malam 27 Ramadan yaitu dengan menancapkan lampu tradisional yang biasa disebut dengan dile jojor,” katanya.
Dile jojor ini biasanya ditancapkan di sudut-sudut rumah atau bangunan. Bahkan dile jojor ini juga ditancapkan di beras yang akan digunakan untuk membayar zakat fitrah.
“Selain ditancapkan di sudut rumah, biasanya juga di usaha-usaha yang sedang kita jalankan seperti kios, ada juga di atas beras yang akan dipakai untuk bayar zakat fitrah,” katanya.
Diterangkannya, bakar dila jojor merupakan tradisi jaman dulu yang masih dilestarikan hingga saat ini. Tradisi ini juga tetap dikenalkan kepada generasi muda.