- Kondisi tersebut akan mempengaruhi kualitas beras yang akan dikonsumsi masyarakat
- Titiek Soeharto kaget dengan bau busuk sampah TPS Sandubaya yang tercium hingga gudang Bulog
- Pemerintah tidak punya lahan untuk pembuangan sampah
SuaraBali.id - Komisi IV DPR RI menyoroti lokasi gudang Bulog mandalika bersebelahan dengan tempat pembuangan sementara (TPS) Sandubaya.
Kondisi tersebut akan mempengaruhi kualitas beras yang akan dikonsumsi oleh masyarakat.
Ketua Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Hariyadi atau lebih dikenal dengan Titiek Soeharto mengatakan tim berkunjung ke gudang Bulog untuk melihat persediaan beras.
Hanya saja, dari kunjungan yang dilakukan kaget dengan bau busuk sampah di TPS Sandubaya yang tercium hingga gudang bulog.
Baca Juga:Komisi IV Tinjau Gudang Bulog Gianyar, Titiek Soeharto: Beras Lokalnya Agak Pecah-pecah
Dimana, lokasi TPS Sandubaya bersebelahan dengan gudang beras sehingga dikhawatirkan akan mempengaruhi kualitas.
“TPS itu waktu kita masuk baunya menyengat. Ini kan kurang higienis untuk beras yang disimpan di situ,” katanya Rabu (12/11).
Sementara itu, Pimpinan Wilayah Perum Bulog NTB, Mara Kamin Siregar mengatakan keberadaan TPS Sandubaya selama ini mempengaruhi kualitas beras.
![Ketua Komisi IV DPR RI Titiek Soeharto mengunjungi gudang Bulog Makassar, Senin 11 Agustus 2025 [SuaraSulsel.id/Lorensia Clara]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2025/08/12/43238-titiek-soeharto.jpg)
“Kita koordinasi dengan Pemkot Mataram untuk mencari solusi terbaik terhadap TPS,” katanya.
Ia mengaku, TPS Sandubaya sudah lama beroperasi. Selama ini sudah bersurat ke Pemkot Mataram terkait kondisi yang terjadi dan berharap lokasi TPS bisa dipindah.
Baca Juga:Bali Siap Jadi Percontohan, Proyek Sampah Jadi Listrik Mulai Dibangun 2026
“Mudah-mudahan ada solusi yang terbaik untuk pengalihan sampah,” harapnya.
Bau busuk sampah di TPS Sandubaya berdampak pada beras. Dengan begitu, perawatan beras yang sebelumnya dilakukan sekali dalam empat bulan, menjadi dua bulan sekali.
“Baunya dan Hama yang paling cepat. Jadi akan mempengaruhi biaya. Perawatan kita tetap lakukan dan biaya akan lebih tinggi,” katanya.
Sementara itu, Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Mataram Lalu Alwan Basri mengaku sudah menerima surat dari Perum Bulog NTB.
Namun, Pemkot Mataram masih kebingungan untuk lokasi pembuangan sampah.
“Kita kan produksi 230 ton sehari. Kita dapat kendala karena Kebon Kongok ditutup sehingga satu-satunya jalan di situ kita punya lahan,” katanya Kamis (13/11).
Saat ini, Pemkot Mataram bersama pemda Lombok Barat sedang menyiapkan lahan pembuangan sampah. Namun hingga saat ini dua daerah ini belum difasilitasi Pemprov NTB karena ini lintas kabupaten.
“Kami bertiga harus duduk kembali. Kemana kita harus kitab uang. Kebon Kongok masih membatasi pembangunan. Itu kendala kita. Terus Pak Wali karena lahan kita di sana cukup luas makanya kita buang di sana,” tegasnya.
Disatu sisi, keluhan terhadap kondisi sampah ini diakuinya dirasakan. Untuk mengurangi bau yang ditimbulkan, secara perlahan Pemkot Mataram membakar sampah di TPS Sandubaya menggunakan insinerator.
“Ini memanfaat insinerator yang 10 ton. Walaupun itu sedikit tapi bisa mengurangi,” katanya.
Koordinasi yang sudah dilakukan, Bulog meminta agar tidak membuang sampah di lokasi tersebut. Tapi pemda Kota Mataram tidak memiliki lahan.
Keluhan ini sudah menjadi perhatian pimpinan daerah.
“Lahan kita tidak punya ini untuk pindah. Kita bukan tutup mata dengan kondisi ini,” katanya.
Penumpukan sampah di TPS Sandubaya terjadi pada tahun 2025 ini. Jumlah sampah di lokasi sudah penuh. Sementara TPS tersebut sudah beroperasi sekita 2001 lalu.
“TPS sudah lama. Lebih dulu TPS beroperasi dari Bulog sebagai gudang beras,” katanya.
Untuk mengurangi sampah di buang ke TPS Sandubaya, pemilihan sudah mulai dilakukan ditingkat rumah tangga.
Selain itu, sampah-sampah yang dihasilkan juga diolah menjadi beberapa produk salah satunya menjadi paving block di TPST.
“Kita jug ada sosialisasikan namanya tempah dedoro untuk mengurangi sampah masuk ke TPS,” katanya.
Pemkot Mataram akan tetap mengoperasikan TPS Sandubaya meski sudah ada lokasi pembuangan. Karena TPS tersebut hanya sebagai tempat pembuangan sementara atau sebagai alternatif,” tutupnya.
Kontributor: Buniamin