- Seorang anak berinisial KA melompat dari lantai tiga Pasar Desa Adat Serangan, Denpasar, pada Minggu, 19 April 2026.
- Akibat tindakan nekat saat merekam konten video tersebut, korban mengalami cedera patah tulang pada bagian kaki dan tangan.
- Kepolisian menyatakan korban meniru adegan dalam permainan daring Omori, namun tidak ditemukan adanya indikasi perundungan dalam peristiwa tersebut.
SuaraBali.id - Seorang anak perempuan melompat dari Lantai 3 Pasar Desa Adat Serangan, Denpasar Selatan, Kota Denpasar, Minggu (19/4/2026).
Akibat hal tersebut, anak berinisial KA itu mengalami patah tulang kaki dan tangan.
Kejadian tersebut menarik perhatian publik di media sosial.
Karena sebelum peristiwa itu, KA sempat meminta temannya untuk merekam videonya untuk dijadikan konten.
Baca Juga:Tak Gentar Meski Skuad Pincang, Johnny Jansen Bocorkan Kunci Kemenangan Bali United
Video tersebut diawali dengan KA yang menari dan beberapa saat kemudian melompat.
Teman KA mengakui jika mereka tidak menyangka jika korban akan melompat dalam video itu.
“Tiba-tiba dengan sendirinya korban langsung berlari dan melompat dari lantai 3 pasar Desa Adat Serangan tersebut,” kata Kasatreskrim Polresta Denpasar, Kompol Agus Riwayanto Diputra saat ditemui di Mapolresta Denpasar, Kamis (23/4/2026).
Setelah kejadian tersebut, ponsel korban sempat diamankan untuk diselidiki.
Agus menjelaskan jika tidak ada indikasi perundungan yang menyebabkan peristiwa tersebut.
Baca Juga:Warga Serahkan Elang Tikus Terjerat dan Bayi Lutung ke BKSDA
Namun, ada indikasi korban terpengaruh adegan dalam game yang membuatnya melakukan tindakan tersebut.
Dalam keterangan yang disampaikan, KA disebut terpengaruh game bernama “Omori” yang disebut karakter dalam game tersebut melakukan adegan loncat dari Gedung.
“Jadi memang kita melihat di situ tidak ada indikasi-indikasi bullying, tapi memang karena korban kita yang jatuh ini ada terindikasi termotivasi dengan adanya salah satu game ya,” tutur Agus.
Koordinasi dengan psikolog juga menunjukkan indikasi yang sama terkait imbas dari game tersebut.
“Memang kalau kita lihat dan kita juga sudah koordinasi dengan psikolog, ya memang ada sedikitnya peran ataupun imbas gara-gara game itu,” papar Agus.
“Akhirnya dia ingin mencoba tren tersebut dan ini ingin diviralkan oleh yang bersangkutan,” tambahnya.