- Tradisi Pukul Sapu adalah ritual membersihkan lingkungan di Ternate dan Tidore menyambut Ramadan.
- Pukul Sapu di Desa Morella dan Mamala melibatkan pemuda mencambuk diri bergantian dengan lidi enau.
- Luka akibat sabetan pada tradisi unik Maluku ini konon cepat sembuh tanpa bekas luka.
Para peserta, yang hanya mengenakan celana pendek, ikat kepala, dan bertelanjang dada.
4. Peserta Mencambuk Bergantian
Peserta dibagi menjadi dua kelompok dengan posisi berdiri dan saling berhadapan.
Kedua kelompok ini menyabetkan lidi enau ke pinggang, dada dan punggung hingga lebam dan berdarah secara bergantian.
Baca Juga:Ritual Pembersihan Diri dengan Rempah Alami Suku Mandailing Jelang Ramadan
Pergantian antara kelompok yang mencambuk dan yang dicambuk diatur oleh koordinator upacara melalui aba – aba atau alunan gendang.
5. Luka tidak sakit dan sembuh dengan cepat
Uniknya dari tradisi ini adalah tubuh peserta yang memar dan mengeluarkan darah itu tidak terasa sakit.
Selain itu, bercak sabetan dan goresan darah akibat cambukan lidi enau dapat disembuhkan dengan cepat tanpa meninggalkan bekas.
Biasanya luka tersebut disembuhkan dengan ramuan dari daun jarak, maupun minyak kelapa yang didoakan oleh para tetua adat.
Baca Juga:Menyelami Misteri Ngurek, Tradisi Kebal Senjata di Tanah Bali
Tradisi Pukul Sapu ini menjadi tradisi unik yang tidak hanya memperkaya kebudayaan lokal saja, namun juga menjadi prioritas dalam pengembangan sektor kebudayaan dan pariwisata di Maluku.
Kontributor : Kanita