- Tradisi Pukul Sapu adalah ritual membersihkan lingkungan di Ternate dan Tidore menyambut Ramadan.
- Pukul Sapu di Desa Morella dan Mamala melibatkan pemuda mencambuk diri bergantian dengan lidi enau.
- Luka akibat sabetan pada tradisi unik Maluku ini konon cepat sembuh tanpa bekas luka.
SuaraBali.id - Tradisi untuk menyambut datangnya bulan suci Ramadan di Indonesia umumnya dilakukan dengan kenduri.
Untuk doa bersama memohon ampunan hingga melakukan mandi untuk menyucikan diri.
Namun, tradisi yang satu ini sedikit berbeda, karena dilakukan dengan membersihkan lingkungan.
Tradisi itu dikenal dengan Pukul Sapu. Tradisi Pukul Sapu ini berkembang di Maluku, terutama daerah Ternate dan Tidore.
Baca Juga:Ritual Pembersihan Diri dengan Rempah Alami Suku Mandailing Jelang Ramadan
Pukul Sapu merupakan tradisi membersihkan lingkungan sekitar seperti masjid, musala, rumah dan jalan – jalan untuk menyambut datangnya bulan Suci Ramadan.
Selain membersihkan lingkungan, tradisi ini juga dilakukan dengan upacara adat.
Berikut fakta – fakta soal Tradisi Pukul Sapu di Maluku:
1. Tradisi Pukul Sapu di Desa Morella dan Mamala
Tradisi Pukul Sapu ini digelar oleh Masyarakat yang bermukim di Desa Morella dan Desa Mamala.
Baca Juga:Menyelami Misteri Ngurek, Tradisi Kebal Senjata di Tanah Bali
Kedua desa tersebut masuk di wilayah Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah.
2. Peserta Pukul Sapu dari Pemuda desa
Peserta Upacara adat Baku Pukul Menyapu ini biasanya adalah para pemuda dari dua desa bertetangga tersebut.
Meski menjadi tradisi umat islam Maluku, namun upacara ini juga dihadiri oleh umat Kristen di daerah tersebut.
3. Dimulai dengan Tepuk Tangan
Upacara adat Pukul Sapu ini dimulai dengan diiringi tepuk tangan dan sorak sorai dari penonton.