SuaraBali.id - Di saat pekik "Merdeka! Merdeka! Merdeka!" membakar udara di kota-kota besar pada 17 Agustus 1945, di Desa Penyaringan, pelosok barat Pulau Bali, yang terdengar hanyalah desau angin dan gemerisik daun kelapa.
Berita gembira itu, kabar tentang lahirnya sebuah bangsa, datang terlambat, berhembus samar dari mulut ke mulut, seminggu setelah proklamasi dikumandangkan.
Bagi seorang pemuda bernama Nyoman Sirna, kabar yang dibawa angin itu menyalakan api dalam dadanya.
Dengan semangat yang meluap, ia bergegas mencari kepastian, memburu surat kabar Bali Shimbun yang terbit di Denpasar.
Baca Juga:Fase Purnama, Awas Banjir Rob di Bali
Namun, yang ia temukan hanyalah halaman-halaman bisu.
Tak ada satu kata pun tentang proklamasi.
Pemerintah kolonial Jepang, dalam upaya terakhirnya untuk mencengkeram kekuasaan, telah menyembunyikan kebenaran, takut percikan api kemerdekaan akan menjadi kobaran pemberontakan.
Namun, kebenaran tak bisa selamanya dibungkam. Langit sendiri yang akhirnya berbicara.
Sepekan setelah hari bersejarah itu, beberapa pesawat Sekutu menderu rendah di atas langit Bali, menjatuhkan selebaran-selebaran kertas yang membawa pesan takdir: Jepang telah menyerah, dan tentara Sekutu akan segera tiba untuk melucuti senjata mereka. Penduduk diminta untuk tetap tenang.
Baca Juga:Mengapa di Bali Tikus Tidak Boleh Dibentak? Ini Cerita dan Mitos di Baliknya
Ketenangan adalah hal terakhir yang ada di benak Nyoman Sirna.
Selebaran itu bukanlah akhir dari cerita, melainkan awal dari babak baru yang penuh ketidakpastian.
Ia segera mengumpulkan para pemuda, dan dalam rembug di bawah temaram senja, sebuah kekhawatiran besar mengemuka.
Di antara barisan negara Sekutu, ada nama yang paling mereka takuti: Belanda.
Hantu kolonialisme yang telah mencengkeram selama 350 tahun kini mengancam untuk kembali dengan wajah baru.
Bagi Nyoman dan kawan-kawannya, tekad mereka bulat: penjajahan tidak boleh terulang, apa pun risikonya.