Ketua MDA Bali Minta Segala Kritikan ke Pemerintah Ditunda Sampai Acara G20 Selesai

Ia selaku pemimpin di Majelis Desa Adat, ia melihat G20 sebagai momentum baik untuk kebangkitan pariwisata Pulau Dewata.

Eviera Paramita Sandi
Selasa, 25 Oktober 2022 | 14:53 WIB
Ketua MDA Bali Minta Segala Kritikan ke Pemerintah Ditunda Sampai Acara G20 Selesai
Ketua Majelis Desa Adat (MDA) Provinsi Bali Ida Penglingsir Agung Putra Sukahet. [ANTARA]

"Warga Nusa Dua sudah terbiasa membatasi diri demi kelancaran sebuah acara. Tahun lalu ada acara besar, saya lupa namanya. Pantai steril. Juru Bendesa memberi imbauan agar masyarakat tidak beraktivitas di sekitar pantai,” kata Yan Ferry, warga Banjar Penyarikan, Nusa Dua, dihimpun dari Siaran Tim Komunikasi dan Media G20.

Menurut Ferry adanya pertemuan KTT G20 akan berimbas pada perekonomian dari pariwisata Bali, kedatangan delegasi dinilai akan menghidupkan kembali pariwisata yang sempat terpuruk karena pandemi COVID-19.

Terkait dengan pengurangan aktivitas di sekitar lokasi pertemuan, Gubernur Bali Wayan Koster mengeluarkan kebijakan pendukungnya yaitu arahan untuk bekerja dari rumah atau Work From Home (WFH) dan pelaksanaan sekolah daring bagi masyarakat di wilayah Kota Denpasar dan Kabupaten Badung.

Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan sebelumnya meminta Pemprov Bali untuk mengurangi mobilitas masyarakat selama penyelenggaraan KTT G20.

Baca Juga:Ditemui Bupati Tabanan, Orangtua yang Tega Rantai Anaknya Tanpa Baju Mohon Maaf

Menurutnya, dengan menerapkan kebijakan WFH dan sekolah daring, mobilitas masyarakat Bali berkurang dan mampu mengurangi potensi kemacetan dan kepadatan lalu lintas untuk kenyamanan penyelenggaraan acara.

“Saya pribadi lebih memilih untuk beraktivitas di rumah. Karena kalau ada acara seperti ini biasanya ada jalan yang pada jam tertentu tidak boleh dilewati,” kata Wardatul Jannah, warga Denpasar pengusaha Sambal Khas Bali, Sambal M3.

Hal senada juga dikatakan warga bernama Alfani Syukri. Lelaki asal Lombok, Nusa Tenggara Barat itu, mengatakan, masyarakat Bali memang cenderung menghindari lokasi di mana acara besar berlangsung.

“Karena biasanya lalu lintas ditutup satu jam sebelum delegasi datang. Itu jalan akan macet,” kata Alfani. (ANTARA)

Baca Juga:Dua Anak di Tabanan Dirantai Lalu Ditinggal Pergi, Ibunya Kini Resmi Jadi Tersangka

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini

Tampilkan lebih banyak