Kisah Tentara Jepang Matsuhito Dan Araki, Diangkat Anak Hingga Ganti Nama Sukra Sukri

Nyoman Susanta menyampaikan cerita tentang perjuangan ayahandanya yang bernama Ketut Receh. Ia dulunya adalah Ketua Markas W.

Eviera Paramita Sandi
Kamis, 18 Agustus 2022 | 10:19 WIB
Kisah Tentara Jepang Matsuhito Dan Araki, Diangkat Anak Hingga Ganti Nama Sukra Sukri
Tentara Jepang Matsuhito Dan Araki. [Istimewa/beritabali.com]

SuaraBali.id - Masih banyak hal yang belum diketahui dari sejarah di Indonesia. Terutama yang berhubungan dengan kemerdekaan melawan penjajah.

Salah satu sejarah yang tak banyak diketahui adalah kisah perjuangan dari Desa Penarungan, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, Bali. Salah satu ceritanya disampaikan warga Penarungan, Nyoman Susanta.

Nyoman Susanta menyampaikan cerita tentang perjuangan ayahandanya yang bernama Ketut Receh. Ia dulunya adalah Ketua Markas W.

Di medan pertempuran dulu, Susanta bercerita bahwa ayahnya menyebut ada dua tentara Jepang terlihat kebingungan di salah satu tempat di wilayah Badung.

Baca Juga:Jual Nasi Jinggo Gagal, Mantan Napi Ini Malah Kembali Masuk Bui Dengan Kaki Luka Tembak

Mereka bernama Mitsuhito dan Araki telah menyerah tanpa perlawanan dan mengibarkan bendera putih. Kedua tentara Jepang tersebut diajak ke "Markas W" Penarungan dan mereka berjanji akan membantu perjuangan.

"Mereka menyerah tanpa perlawanan dan mengibarkan bendera putih sehingga, para intel kemerdekaan berani mendekati mereka. Saat itu, tidak ada kecurigaan dari masyarakat, mereka melihat kedua orang Jepang ini sangat polos," tutur Susanta beberapa waktu lalu sebagaimana diwartakan beritabali.com - jaringan suara.com.

Mereka pun diajak berbagubgg serta diberi tugas melatih para pejuang di Blumbungan, Sibang, Badung. Selain itu, keduanya ditugaskan mencari senjata di Tangsi Militer Jepang.

Keduanya pun diangkat sebagai anak angkat oleh ayahnya, dan langsung diberi nama orang Bali, Sukra dan Sukri.

"Mereka sudah diadopsi oleh Ketua "Markas W", Bapak saya (Ketut Receh) dan menjadi (memeluk agama) Hindu. Mereka juga ingin diaben kalau gugur dalam perang, demikian cerita ayah saya," ujarnya.

Baca Juga:Banyak Money Changer Nakal, Wisatawan di Bali Diimbau Transaksi di Tempat Resmi

Menurut cerita ayahnya, pahlawan I Gusti Ngurah Rai sempat meminta bantuan ke "Markas W". Kemudian kedua orang Jepang tersebut dikirim ke Batalion I Gusti Ngurah Rai yang berkedudukan di Marga, Tabanan.

Namun sayang, dalam perjalanan Wayan Sukra (Mitsuhito) tewas tertembak tentara Belanda. Sementara Made Sukri (Araki) berhasil membantu Gusti Ngurah Rai dan gugur dalam pertempuran di Marga Tabanan.

Mitsuhito dan Araki tidak pernah mengunjungi rumah orang tua angkatnya karena bersembunyi di markas.

"Pesan terakhirnya dari cerita ayah saya saat masih ada, kalau mereka gugur nantinya ingin diupacarai seperti Agama Hindu," ujarnya, sembari menambahkan bahwa ayahnya Ketut Receh telah meninggal dunia tahun 1955 karena sakit.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Berapa Life Path Number Kamu? Hitung Sekarang dan Lihat Rahasia Kepribadianmu
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Materi Teks Informasi Lengkap Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Seberapa Sehat Jam Tidurmu Selama Bulan Puasa?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika Kelas 6 SD Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Paling Cocok Jadi Takjil Apa saat Buka Puasa?
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini