Tak hanya itu, para pelancong juga dapat melihat praktik para pelukis yang sedang melukis, maupun pemahat yang asyik membuat ukiran.
Yang tidak kalah menarik, ada sejumlah kelas pelatihan yang dapat diikuti para pelancong ketika berwisata ke museum yang berlokasi di Jalan Raya Pengosekan, Ubud, Kabupaten Gianyar itu.
Mulai dari berlatih gamelan Bali, membuat ukiran kayu, melukis, menari Bali, memasak kuliner Bali, membuat kerajinan perak, melukis telur, kelas yoga, membuat sesajen/sarana persembahan dan sebagainya.
Setiap akhir pekan maupun hari Purnama dan Tilem juga disuguhkan kesenian Cak yang dibuat menyatu dengan alam.
Baca Juga:Pengendara Motor Terjun ke Jurang Sekitar GWK, Tewas di TKP
Agung Rai menuturkan, museum bukanlah bangunan yang diperuntukkan begitu saja sebagai ajang bisnis. Melainkan bangunan yang menyatu dengan alam, pedesaan dan masyarakat, the living museum.
Yang dipentaskan di tempat itu sangat menarik, apalagi disaksikan di panggung terbuka di bawah sinar bulan purnama. "Rugi jika berwisata ke Bali tanpa berkunjung ke museum ini," kata anggota Dewan Perwakilan Daerah Made Mangku Pastika saat berkunjung ke ARMA belum lama ini.
Pastika, yang juga mantan Gubernur Bali itu mengaku bisa menghabiskan waktu hingga berjam-jam menikmati karya lukisan dari sang maestro yang menjadi koleksi ARMA dan menikmati asrinya tanaman di seputaran museum.
Lukisan maestro
The Agung Rai Museum of Art (ARMA) merupakan salah satu museum seni rupa di Bali yang menyimpan berbagai koleksi lukisan yang berasal dari pelukis-pelukis ternama, baik dari dalam negeri maupun mancanegara.
Museum ini diresmikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia Prof Dr Ing Wardiman Djojonegoro pada 9 Juni 1996.