Keberadaan dangdut gerobaok di kawasan Jatinegara menjadi hiburan murah bagi masyarakat kelas bawah.
Rama dan Megi membenarkan hal itu. Mereka mengatakan kebanyakan orang yang menonton pertunjukan dangdut gerobak adalah pekerja seperti kuli angkut di pasar, sopir angkot, kuli bangunan dan proyek.
Dengan merogoh uang Rp10 ribu, mereka bisa bernyanyi dan bergoyang asyik, melepas segala beban hidup yang tidak berkesudahan.
Jika memiliki uang lebih, mereka bisa membeli sebotol minuman keras sebagai pelengkap untuk bersenang-bersenang.
Bangun, adalah salah satunya. Dia baru memintakan tiga-dua lagu untuk dinyanyikan Rama saat malam itu.
"Lumayan mas buat senang-senang, buang stres sesaat," kata dia usai menari lepas.
Dia mengaku jauh-jauh datang dari kawasan Jakarta Selatan, khusus untuk berdangdut ria. Bangun datang bersama satu rekannya.
"Saya kuli proyek, capek kerja, ya pelariannya ke sini," ujarnya.
Tak dapat dipungkiri keberadaan dangdut dorong adalah alternatif bagi masyarakat kelas bawah untuk bersenang-senang versi mereka. Bagaimana pun, mereka berhak mendapatkan pelipur lara dari kerasnya kehidupan Ibu Kota.