SuaraBali.id - I Nyoman Oka Pariartha Karang, selaku Sekretaris Desa Sumerta Kelod yang juga warga Desa Tanjung Bungkak, menceritakan asal mula Tanjung Bungkak.
Berasal dari kata 'Semenanjung' dan 'Bungkak', dirujuk dari awig-awig desa yang mengacu pada Prasasti Blanjong di Griya di Sanur.
Asal mula nama ini berawal dari kisah perjalanan pasukan dari Puri Sanur yang akan membantu penyerangan penjajah ke Puri Satria di Denpasar.
Di tengah perjalanan, ternyata pasukan Puri Sanur bertemu dengan utusan Puri Satria dan menyampaikan keterangan bahwa pihaknya telah dapat mengatasi peperangan tersebut.
Dalam tempat pertemuan itulah dan disampaikan pembatalan peperangan dan munculah kata 'Nungkak' yang artinya pembatalan atau penundaan yang kemudian dikenal kisah perjalanan yang 'nungkak' di Semenanjung.
"Perjalanan sane nungkak di Semenanjung jadilah Tanjung Bungkak. Jadinya perjalanan pasukan dari Puri Sanur ke Puri Satria tertunda di Tanjung Bungkak," ujarnya, dilansir laman BeritaBali, Senin (1/3/2021).
Ia menjelaskan, Desa Tanjung Bungkak merupakan desa tua yang induknya di Desa Sumerta. Tapi masih mempunyai ikatan dengan Desa Sumerta lantaran Pura Puseh Desa Tanjung Bungkak masih menjadi satu di Desa Sumerta.
"Disebut desa tua karena kami memiliki memiliki Pura Tri Kahyangan, yakni Pura Kahyangan, Pura Desa, dan Pura Dalem, namun sebagai upaya untuk menjaga tali kekerabatan Pura Puseh masih ikut di Desa Sumerta," katanya.
Terkait dengan tradisi unik, Oka menyebut setiap enam bulan sekali desa wajib menggelar ritual 'Magarang Nasi' di Pura Tanjung Sari.
Baca Juga: Tegas! PKS Tolak Jokowi Legalkan Miras Demi Investasi
Ada sesajen nasi, daging ayam, dan sambel yang pada saat penyineban, nantinya muncul pertanda secara niskala. Pertanda tersebut sebagai bentuk aba-aba dimulainya secara spontan para warga untuk memakan bersama sesajen tersebut.
"Aba-aba ini tidak jelas bisa dibilang gaib," ujarnya sembari mengatakan ritual ini sebagai bentuk rasa syukur krama atas kesehatan dan kesejahteraan serta keselamatan yang telah diberikan selama ini.
Bahkan setelah tradisi megarang nasi, ada pantangan tidak membersihkan areal dari prosesi ritual tersebut. Nasi sisa yang banyak berjatuhan ke tanah dibiarkan begitu saja.
Diyakini ada makhluk-makhluk lain, yang mungkin saja tidak terlihat juga akan menikmati nasi yang digarang itu. Sisa nasi dibiarkan hingga esok pagi dan keesokan hari, areal tersebut telah bersih dengan sendirinya.
Selain itu, pada awalnya Desa Tanjung Bungkak juga terkenal dengan pertunjukan seni kecak bagi wisatawan. Sebagai buktinya pada Jaba Pura Kahyangan Desa Adat Tanjung Bungkak hingga kini masih terdapat areal tempat duduk bagi penonton seperti arena pertunjukan jaman dulu.
"Dulunya sangat terkenal sekali Kecak Njungkak (singkatan Tanjung Bungkak-red) ini, namun lambat laun tenggelam seiring karena lebih dikenalnya Renon," ungkapnya.
Berita Terkait
-
Puting Beliung di Karangasem, Truk Tertimpa Pohon, Kernet Tewas Terjepit
-
Cuaca Buruk di Bali, Karangasem Diterjang Puting Beliung, 2 Orang Tewas
-
Teman Ngopi di Bali Jahat Banget, Colong Motor Membius Pakai Obat Tidur
-
Layanan Vaksinasi Covid-19 Secara Drive Thru di Bali
-
Kaesang Dirumorkan Beli Klub Liga 1, Deal dengan Bali United?
Terpopuler
- Korupsi Rp18,7 Miliar, Wakil Bupati Indramayu Resmi Ditahan, Lucky Hakim Masih Bungkam
- 5 Rekomendasi Sepatu untuk Jalan Kaki 20 Ribu Langkah, Empuk dan Tidak Cepat Pegal
- Cetak 6 Gol dalam 6 Laga Bersama Persija, Shin Tae-yong Angkat Topi untuk Alexander Jeremejeff
- Cara Menggunakan Minyak Zaitun Mustika Ratu untuk Wajah dan Rambut
- Bisakah Bedak Marcks dan Air Mawar Viva untuk Mengunci Makeup? Begini Caranya
Pilihan
-
Prabowo Tak Takut Ancaman MSCI, OJK: Kita Tetap Usaha Jadi Emerging Market
-
Pasar Bergejolak, Kapan Waktunya Beli, Tahan, atau Jual Saham?
-
Aktivis Greenpeace: Kalau Rakyat Menanggung Semua Krisis Sendiri, Apa Kerja Pemerintah?
-
Polisi Bunuh Polisi karena Bully, Bharatu Valdo 4 Kali Didor dan Digorok Junior
-
Kamaruddin Simanjuntak Pengacara Brigadir J Meninggal Dunia di RS Pelni
Terkini
-
BRI Siapkan Buyback Saham Tahap II Rp1 Triliun, Optimistis terhadap Prospek Jangka Panjang
-
3.764 Anak Jadi Korban Kekerasan Seksual dan Fisik di NTB dalam Enam Tahun
-
Tabanan Bali Diselimuti Kabut Putih Misterius, Ini Penjelasan Ilmiah BMKG
-
Pimpinan Ponpes di Lombok Barat Ajak Masyarakat Stop Beri Stigma Negatif
-
Menuju 131 Tahun, BRI Teguhkan Peran Sebagai Penggerak Ekonomi Rakyat