Scroll untuk membaca artikel
Dythia Novianty
Senin, 01 Maret 2021 | 13:46 WIB
Desa Tanjung Bungkak. [BeritaBali/Ist]

"Aba-aba ini tidak jelas bisa dibilang gaib," ujarnya sembari mengatakan ritual ini sebagai bentuk rasa syukur krama atas kesehatan dan kesejahteraan serta keselamatan yang telah diberikan selama ini.

Bahkan setelah tradisi megarang nasi, ada pantangan tidak membersihkan areal dari prosesi ritual tersebut. Nasi sisa yang banyak berjatuhan ke tanah dibiarkan begitu saja.

Diyakini ada makhluk-makhluk lain, yang mungkin saja tidak terlihat juga akan menikmati nasi yang digarang itu. Sisa nasi dibiarkan hingga esok pagi dan keesokan hari, areal tersebut telah bersih dengan sendirinya.

Selain itu, pada awalnya Desa Tanjung Bungkak juga terkenal dengan pertunjukan seni kecak bagi wisatawan. Sebagai buktinya pada Jaba Pura Kahyangan Desa Adat Tanjung Bungkak hingga kini masih terdapat areal tempat duduk bagi penonton seperti arena pertunjukan jaman dulu.

Baca Juga: Tegas! PKS Tolak Jokowi Legalkan Miras Demi Investasi

"Dulunya sangat terkenal sekali Kecak Njungkak (singkatan Tanjung Bungkak-red) ini, namun lambat laun tenggelam seiring karena lebih dikenalnya Renon," ungkapnya.

Sisi mistis lainnya, menurut penuturan Oka, konon katanya di seputaran jalan Tanjung Bungkak kerap kejadian pengendara motor atau mobil tersesat karena melihat jalan bercabang atau 'mesepak', tapi dalam kenyatannya tidak terlihat.

Load More