- Masyarakat di Pulau Lombok mengalami kelangkaan gas elpiji 3 kg yang terjadi sejak sebulan terakhir hingga April 2028.
- Kelangkaan stok gas melon tersebut menyebabkan lonjakan harga di tingkat pengecer mencapai kisaran Rp24 ribu hingga Rp25 ribu.
- Terhambatnya distribusi ke pengecer serta pembelian langsung oleh nelayan di pangkalan menjadi penyebab utama sulitnya memperoleh gas.
SuaraBali.id - Kelangkaan gas elpiji 3 kg mulai dirasakan masyarakat di Pulau Lombok. Hal ini terlihat dari sejumlah pengecer yang kekosongan stok. Kelangkaan ini mengakibatkan pada kenaikan harga.
Salah seorang warga di Kabupaten Lombok Barat, Lina mengatakan beberapa pekan ini gas melon cukup sulit didapatkan. Bahkan ketika ke pangkalan yang ada di SPBU juga jarang ada.
"Jarang ada di pengecer. Di Pertamina juga jarang ada," katanya Rabu (29/4/2028).
Selain kelangkaan warga juga harus merasakan kenaikan harga salah satu kebutuhan pokok ini. Biasanya membeli dengan harga Rp20 ribu hingga Rp22 ribu per tabung. Namun saat ini meningkat menjadi Rp24 ribu hingga Rp25 ribu per tabung.
Baca Juga:Satu Orang Berangkat Haji, Satu Kampung Ikut Mengantar hingga Menginap di Jalan
"Harganya mahal juga sekarang. Kemarin bisa dapat harga Rp22 ribu sekarang menjadi Rp24 ribu. Harga bahan pokok naik juga," katanya.
Kelangkaan salah satu kebutuhan pokok ini cukup menyusahkan dirinya. Karena untuk saat ini belum ada alternatif lain untuk mengganti gas. Jika menggunakan kayu bakar belum ada tungku yang disiapkan.
“Kalau pakai tungku juga merasa tidak enak sama tetangga karena asap yang akan kena ke rumah tetangga,” katanya.
Sementara itu salah seorang pengecer gas melon, Mala mengatakan sejak sebulan terakhir sudah tidak mendapatkan lagi stok.
Padahal biasanya pendistribusian dilakukan setiap 10 hari dan itupun tidak semua tabung terisi.
Baca Juga:Dilarang Bawa Sambal Terasi, Makanan Jamaah Calon Haji Disita Petugas
"Ini sudah sebulan tidak ada anterin gas. Padahal biasanya itu setiap 10 hari tetap datang," katanya.
Selain jarang ada stok, pengisian tabung juga tidak pernah full. Artinya, dari 30 tabung yang dimiliki kadang hanya 15 - 20 tabung saja.
"Nggak pernah di sini full. Tidak tahu juga apa penyebabnya kenapa bisa begitu," bebernya.
Mala mengatakan, beberapa kali sudah ke pangkalan untuk meminta pengisian namun selalu kosong. Pasalnya, para nelayan membeli gas Elpiji langsung ke pangkalan.
"Nelayan yang langsung beli kesana. Jadi kita sering nggak dapat," katanya.
Untuk harga sendiri menurut Mala menjual dengan harga paling murah. Biasanya orang-orang menjual satu tabung melon itu sebesar Rp22 ribu.
Namun dirinya hanya Rp20 ribu per tabung.