- Petugas Asrama Haji Embarkasi Lombok memperketat pemeriksaan barang bawaan 392 jamaah calon haji kloter II pada Rabu (22/4/2026).
- Petugas menyita makanan basah, nasi kotak, dan sambal terasi guna mencegah risiko kesehatan seperti diare akibat makanan basi.
- Jamaah diimbau tidak membawa makanan sendiri karena petugas telah menyediakan konsumsi standar kesehatan selama berada di asrama haji.
SuaraBali.id - Musim haji sudah mulai tiba. Berbagai bekal dibawa para jamaah untuk ke tanah suci salah satunya makanan.
Namun sebelum diberangkatkan, petugas di Asrama Haji Embarkasi Lombok memperketat pemeriksaan barang bawaan para jamaah terutama makanan.
Pemberangatan jamaah calon haji di embarkasi Lombok sudah masuk kelompok terbang kedua. Sebanyak 392 jamaah calon haji (JCH) kloter II Kabupaten Lombok Tengah tiba di Asrama Haji Embarkasi Lombok, Rabu (22/4/2026) pagi.
Sebelum istirahat, sejumlah pemeriksaan dilakukan petugas salah satu makanan yang dibawa oleh para jamaah.
Baca Juga:Wacana Kuota Haji Dipangkas 50 Persen, Mimpi Calon Jemaah Terancam Pupus
Petugas Balai Kekarantinaan Kesehatan Kelas I Mataram menyita makanan basah yang dibawa oleh para jamaah. Bahkan nasi kotak yang dibawa oleh para jamaah juga ikut disita.
Beberapa makanan yang tidak boleh dibawa jamaah adalah sambel yang mengandung terasi.
“Kalau sambel yang tidak ada terasinya masih boleh. Tidak berbau. Kan maskapai itu tidak boleh ada barang yang berbau. Barang yang cepat basi. Seperti kue basah, sambel basah yang ada terasinya dan jamu tidak ada BBPOM, makanan bersantan itu tidak boleh,” kata Ketua tim kerja IV BKK Kelas 1 Mataram Ferry Wardhana Rabu (22/4/2026).
Ia mengatakan, para jamaah diberikan nasi kotak dan jajan selama proses pelepasan di Lombok Tengah. Namun selama proses tersebut, jamaah tidak sempat makan makanan tersebut.
Karena dikhawatirkan basi petugas menyita semua nasi dan jajan kotak tersebut. “Mereka kan tidak makan dan petugas sita. Mereka bawa dari sana (Lombok Tengagh). Kita sita karena akan basi,” katanya.
Baca Juga:11 Jemaah Haji Asal NTB Meninggal di Tanah Suci, Kebanyakan Karena Penyakit Jantung
Penyitaan makanan ini juga dilakukan untuk mengantisipasi keluhan para jamaah, misalnya diare. Karena nantinya, petugas di Asrama Haji akan memberikan makanan yang disebut sudah sesuai standar.
“Di sini mereka akan dapat makan dua kali sehari makan siang dan makan malam,” katanya.
Penyitaan nasi dan jajan kotak yang dilakukan ini sambungnya, karena dikhawatirkan tidak langsung dimakan. Sementara makanan yang diberikan tersebut akan cepat basi dan nantinya akan mempengaruhi kondisi jamaah.
“Ditakutkan disimpan terus dan di makan siang dan pasti akan menjadi basi. Apalagi jamaah akan dapat makan siang dan kemungkinan tidak akan dimakan. Kita lakukan mitigasinya lah,” tegasnya.
Selain makanan, obat-obatan juga diperiksa ketat oleh petugas. Obat masih bisa dibawa jamaah dengan catatan tidak berlebihan. Artinya, obat yang dibawa untuk kebutuhan 40 hari kedepan.
Selain itu, sudah sesuai standar dari Kementerian Kesehatan. “Kalau berbahaya dan tidak sesuai standar obat-obatan yang kami temukan, akan disita,” ungkapnya.