- Berbagai tradisi lokal seperti Megengan, Padusan, dan Meugang dilakukan sebagai persiapan menyambut Ramadhan.
- Tradisi ini mencakup ritual penyucian diri, ziarah kubur, dan kenduri sebagai permohonan ampunan Ilahi.
- Contoh lain meliputi Dugderan di Semarang untuk pengumuman awal bulan dan Malamang di Sumatera Barat.
![Warga melakukan tradisi padusan di pancuran air hangat Pingit untuk membersihkan diri sambut Ramadhan. [Suara.com/Citra Ningsih]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2022/04/01/47118-padusan.jpg)
3. Meugang (Aceh)
Meugang merupakan tradisi yang berasal dari Aceh. Meugang pertama kali dirayakan sejak masa Kerajaan Aceh yang bertepatan dengan proses penyebaran agama Islam kala itu.
Awal perayaan Meugang dilakukan ketika masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda Tahun 1607 – 1636 M.
Perayaan ini dihadiri oleh para Menteri, sultan, ulama dan pembesar Kerajaan.
Baca Juga:Nostalgia! 5 Permainan Tradisional Lombok Masih Dimainkan Anak-anak di Era Smartphone
Tradisi ini dilakukan sebagai bentuk rasa Syukur Sultan Iskandar Muda atas kesejahteraan rakyat Aceh dan dalam menyambut bulan Ramadhan.
Oleh karena itu, Raja memerintahkan untuk memotong hewan ternak dalam jumlah yang cukup besar agar bisa dibagikan secara gratis kepada Masyarakat.
4. Dugderan (Semarang)
Tradisi Dugderan dari Semarang, Jawa Tengah ini merupakan warisan budaya yang sudah berlangsung lebih dari satu abad.
Sejarah Dugderan ditelusuri sejak Tahun 1881 pada masa kepemimpinan Bupati Semarang, Raden Mas Tumenggung Aryo Purboningrat.
Baca Juga:Rekomendasi Tempat Ngopi Tradisional di Bali untuk Liburan 2025: Kembali ke Akar Rasa Kopi
Saat itu, Masyarakat belum memiliki sistem komunikasi yang efektif untuk mengetahui awal Ramadhan.
Sang Bupati kemudian menciptakan inovasi berupa pengumuman resmi yang ditandai dengan bunyi bedug (Dug) sebanyak 17 kali dan dentuman Meriam (Der) sebanyak 7 kali.
Dari sinilah istilah Dugderan muncul. Masyarakat Semarang melestarikan tradisi ini dengan berbagai kegiatan, seperti pawai budaya, hingga pasar rakyat yang menjajakan berbagai kerajinan serta kebutuhan Ramadhan.
![Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu membagikan kue ganjel rel kepada warga usai membacakan Suhuf Halaqah di Masjid Agung Semarang (MAS) Kauman dalam rangkaian Dugderan menyambut Ramadan, Sabtu (9/3/2024). [Istimewa]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2024/03/09/75252-dugderan-semarang.jpg)
5. Nyadran (Jawa Tengah)
Tradisi Nyadran ini berasal dari Jawa Tengah, Jawa Timur dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang sudah dipercaya selama ratusan tahun.
Nyadran berasal dari kata ‘sraddha’ yang artinya keyakinan.