SuaraBali.id - Desa Adat Kapal memiliki sebuah tradisi unik yang dilaksanakan setiap tahunnya yakni tradisi Aci Tabuh Rah Pengangon atau yang akrab dikenal sebagai Perang Ketupat. Pada tahun ini, tradisi ini dilaksanakan pada Senin (10/10/2022) di Pura Desa Puseh Kapal, Mengwi, Badung, Bali.
Tradisi ini sejatinya sudah dilakukan sejak tahun 1339 silam. Setelahnya tradisi ini selalu dilakukan setiap Rahinan Purnama Kapat (Purnama Keempat) yang dalam kalender Bali jatuh setiap setahun sekali.
Secara etimologis, Aci Tabuh Rah Pengangon memiliki arti sebagai persembahan yang diberikan dari Warga Desa Adat Kapal agar memohon kemakmuran kepada Dewa Siwa.
Sementara itu, prasarana ketupat dan kue bantal yang digunakan saat “perang” di prosesi ini dalam kepercayaan Hindu melambangkan Purusa (sperma) dan Pradana (indung telur) yang saling dilemparkan dan jika keduanya dipertemukan akan melahirkan kehidupan baru.
Baca Juga:Tiket Parkir Mobil di Ubud Rp 20 Ribu Karena Disebut Jalan Pribadi, Warganet Geger
Pada hari Purnama Kapat, Warga Desa Adat Kapal akan melakukan persembahyangan dari pagi hingga siang hari di Pura Desa Puseh Kapal. Hingga selanjutnya prosesi Aci Tabuh Rah Pengangon diawali oleh tari Rejang Tipat dan Baris Bantal.
Setelahnya, masing-masing 33 pemuda dan pemudi bersiap melakukan prosesi perang bantal di depan Bale Agung Pura, dan dilanjutkan dengan perang ketupat di luar area Pura yang diikuti oleh puluhan pemuda.
Tradisi ini menjadi persembahan dari warga Desa Adat Kapal karena ketupat dan bantal yang digunakan adalah persembahan dari seluruh warga Desa Adat Kapal. Bendesa Adat Kapal, Ketut Sudarsana menyebut total 15 ribu ketupat dan kue Bantal yang digunakan dalam prosesi ini.
“Tipatnya 15 ribu, karena 1 KK (Kartu Keluarga) itu (mempersembahkan) tipat 6 buah dan bantal 6 buah, dalam kepercayaan Bali itu satu kelan. Kalau dihitung 2500 KK (di Desa Kapal) itu sudah 15 ribu,” tutur Sudarsana.
Sudarsana menjelaskan setiap tahunnya hanya 5 dari 18 banjar adat yang terlibat dalam prosesi ini karena keterbatasan tempat.
Baca Juga:Bule di Bali Bikin Geger Karena Gunakan Motor Rental Sampai Berasap Dan Bising
“Kelima banjar itu Banjar Cepaka, Panglan Baleran, Panglan Delodan, Gegadong dan Tambaksari. Nanti tahun depan lagi (bergilir) lima banjar lagi,” ujarnya.
Bupati Badung I Nyoman Giri Prasta yang turut mengikuti perang ketupat ini mendukung penuh tradisi yang sudah menjadi warisan budaya tak benda ini. Ia turut melempar ketupat dan juga dilempari ketupat oleh krama setempat.
“Bagi kami, ini luar biasa sekali dan saya (memberikan) satu kata, pertahankan dan lestarikan,” ujar Giri Prasta.
Sementara itu, salah seorang pemuda yang menjadi peserta, Kupik sangat antusias dalam mengikuti tradisi tersebut.
“(Perasaannya) mantap jiwa, astungkara tadi cuaca aman,” ujar pria asal Banjar Cepaka tersebut.
Kontributor Bali : Putu Yonata Udawananda