facebook

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

5 Macam Tradisi Unik Hari Raya Galungan dan Kuningan

Dinar Surya Oktarini Selasa, 09 November 2021 | 11:23 WIB

5 Macam Tradisi Unik Hari Raya Galungan dan Kuningan
Sejumlah Umat Hindu saat persembahyangan Hari Raya Galungan di Ubud, Bali, Rabu (10/2).

Yuk simak tradisi unik Hari Raya Galungan dan Hari Raya Kuningan.

SuaraBali.id - Setiap tahunnya umat Hindu Bali memperingati Hari Raya Galungan dan Hari Raya Kuningan. Perlu kamu tahu ternyata ada tradisi unik Hari Raya Galungan dan Hari Raya kuningan lho, apa saja ya?

Pada hari raya tersebut, masyarakat Hindu melangsungkan berbagai tradisi unik sebagai rangkaian Galungan dan Kuningan. Wisatawan juga dapat menonton tradisi unik Hari Raya Kuningan atau Hari Raya Galungan secara langsung.

Perayaan ini sayang untuk dilewatkan sebab merupakan momen 210 hari sekali. Berikut merupakan tradisi unik Hari Raya Galungan dan Hari Raya Kuningan:

Suasana jelang perayaan Galungan Suku Tengger di Desa Desa Ngadas, Poncokusumo, Kabupaten Malang, Jawa Timur. (Suara.com/Sugianto)
Suasana jelang perayaan Galungan Suku Tengger di Desa Desa Ngadas, Poncokusumo, Kabupaten Malang, Jawa Timur. (Suara.com/Sugianto)

1. Memunjung

Baca Juga: Ibu-ibu di Bali Serbu Bazar Lelang Emas Menjelang Hari Raya Galungan

Tradisi unik yang pertama adalah Memunjung. Ini merupakan tradisi mengunjungi kuburan dengan membawa sesajen seusai melaksanakan sembahyang di pura pada Hari Raya Galungan.

Jika jasad masih dalam kubur dan belum dilaksanakan upacara Ngaben, keluarga wajib untuk mengunjungi makam sanak saudaranya. Keluarga mengunjungi makam sembari memanjatkan doa agar roh dapat tenang di alam baka. Jasad yang belum dilaksanakan upacara Ngaben, menurut kepercayaan umat Hindu masih belum menyatu dengan Ida Sang Hayang Widhi.

2. Perang Jempana

Perang Jempana dilaksanakan pada Hari Raya Galungan dan Hari Raya Kuningan yang dilakukan setiap 210 hari. Perang Jempana ini dilakukan dengan cara penduduk mengusung tandu atau jempana yang berisi sesajen dan simbol Dewata. Puncak dari tradisi ini adalah Ngambeng Jemapana atau atraksi saling dorong antar warga dengan diringi oleh tabuhan gong balaganjur.

Setelah berakhir, pemuka agama akan memercikkan air suci ke warga. Para dewa dilambangkan dengan uang kepeng serta benang tridatu yang dikeluarkan dari jempana dan kemudian akan dikembalikan ke dalam Pura.

Baca Juga: Jelang Galungan, Buah Lokal di Bali Diserbu Pembeli Untuk Perlengkapan Banten

3. Ngurek

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait