Menurut cerita para orang tua terdahulu, kata Sudarsana, bahwasanya di bawah Candi ada sumur, dan di salah satu sudut di areal Pura ada juga lubang.
Pada 1949 sempat dilakukan restorasi, salah satunya mengukur kedalaman lubang itu dengan tali yang diisi batu untuk pemberat. Akan tetapi, upaya ini sia-sia karena benang diisi pemberat tidak sempat menyentuh dasar dari kedalaman lubang itu.
"Maka keyakinan masyarakat akhirnya muncul, kedalaman dari lubang tadi sampai tembus ke laut. Dan jika dilihat secara geografis memang ada urung-urungan laut masuk ke daratan atau saat terjadi gempa," ungkapnya.
Sudarsana mempertegas Pura Sada dibangun pada abad ke-12 tahun 1137 Masehi atau Saka 1059 pada masa pemerintahan Sri Jaya Sakti di mana di Bali beristana di Gunung Karang, Lempuyang.
Baca Juga:Wisata Bali: Bila di Jawa Ada Wali Songo, di Sini Muncul Paket "Wali Pitu"