Wisata Bali: Menelusuri Jejak Siwa Buddha di Pura Sada Desa Kapal

Pura Sada di Desa Kapal beraliran Budha Mahayana dibangun pada masa Sri Jaya Sakti.

RR Ukirsari Manggalani
Senin, 17 Mei 2021 | 16:20 WIB
Wisata Bali: Menelusuri Jejak Siwa Buddha di Pura Sada Desa Kapal
Pura Sada Desa Kapal [BeritaBali.com].

"Diakui atau tidak, secara sejarah agama paling awal di Bali adalah agama Buddha," katanya.

Hal ini dibuktikan dengan adanya pelinggih berbentuk stupa di dalam areal Pura Sada. Peninggalan berciri agama Buddha ini bukan saja ditemukan di Pura Sada, tetapi di daerah lainnya di Bali. Saat hari raya Imlek, warga keturunan Tionghoa juga banyak bersembahyang di Pura Sada.

"Melihat semua hal ini menyiratkan bahwasanya Pura Sada di Desa Kapal beraliran Budha Mahayana dibangun saat peradaban penguasaan Bali oleh Sri Jaya Sakti di Bali pada 1059. Jika dilihat beliau datang sebagai penguasa mulai 1055. Sehingga beliau membangun tempat ini (Pura Sada)," cetusnya.

"Jadi di Bali umumnya agama Budha berkembang saat itu," ucapnya.

Baca Juga:Wisata Bali: Bila di Jawa Ada Wali Songo, di Sini Muncul Paket "Wali Pitu"

Candi di Bali Bukan Makam

Selanjutnya Candi Induk di Pura Sada adalah lokasi pemujaan Shang Hyang Siwa Guru. Ia menjelaskan awal mula nama pura yang disebut "Prasada" dikarenakan ada Candi Prasada.

Lantas, lama kelamaan menjadi Pura Prasada. Selanjutnya mengalami pergeseran-pergeseran akhirnya disebut Pura, Puru, Sada dari dinasti Sri Jaya Sakti yang membangun Pura Sada.

"Saya menepis bahwasanya Pura Sada sempat disebut makam, tentu anggapan ini salah karena Candi yang ada di Pura Sada dibandingkan dengan makam yang ada di pulau Jawa. Almarhum Ida Bagus Mantra saat itu sangat jelas dalam pidatonya bahwa jangan samakan Cadi Jawa dengan Candi yang ada di Bali," paparnya.

Ia menegaskan candi di Jawa merupakan untuk makam, tetapi Candi di Bali digunakan untuk pemujaan karena jika dilihat dari kata candi sendiri berarti Candika. Dalam hal ini artinya adalah Siwa.

Baca Juga:Wisata Bali: Pariwisata Belum Cerah, Badung Pilih Ekonomi Kreatif

"Jadi candi itu bukan merupakan situs pemakaman," sebutnya.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini

Tampilkan lebih banyak