Kapan Hari Raya Galungan Diperingati? Di Jawa Timur Mulai Abad ke-11

Terpenting dalam menyambut Hari mohon anugerah Hyang Widhi dengan ketulusan hati.

RR Ukirsari Manggalani
Selasa, 13 April 2021 | 15:54 WIB
Kapan Hari Raya Galungan Diperingati? Di Jawa Timur Mulai Abad ke-11
Suasana jelang perayaan Galungan Suku Tengger di Desa Desa Ngadas, Poncokusumo, Kabupaten Malang, Jawa Timur. [Suara.com/Sugianto]

Sedangkan oleh para spiritualis, Hari Raya Galungan ini dirayakan dengan dharana, dyana dan yoga semadhi.

Persembahan dihaturkan ke hadapan Ida Sanghyang Widhi dan kepada semua dewa-dewa dan dilakukan di sanggah parhyangan, di atas tempat tidur, di halaman, di lumbung, di dapur, di tugu (tumbal), di bangunan-bangunan rumah dan lain-lain

Seterusnya di Kahyangan Tiga, di Pengulun Setra (Prajapati), kepada Dewi Laut (Samudera) Dewa Hutan (Wana Giri) di perabot-perabot atau alat-alat rumah tangga dan sebagainya.
Widhi-widhananya untuk di Sanggah atau parhyangan ialah: Tumpeng penyajaan, wewakulan, canang raka, sedah woh, penek ajuman, kernbang payas serta wangi-wangian dan pesucian. Untuk di persembahyangan (piasan) dihaturkan tumpeng pengambean, jerimpen, pajegan serta dengan pelengkapnya. Lauk pauknya sesate babi dan daging goreng, daging itik atau ayarn, dibuat rawon dan sebagainya.

Sejumlah umat Hindu membawa sesajen saat persembahyangan Hari Raya Galungan di Ubud, Bali, Rabu (17/12).
Sejumlah umat Hindu membawa sesajen saat persembahyangan Hari Raya Galungan di Ubud, Bali [Suara.com].

Sesudah selesai menghaturkan upacara dan upakara itu kemudian umat menghaturkan segehan tandingan sebagaimana biasanya, untuk pelaba-pelaba kepada Sang Para Bhuta Galungan, sehingga karena gembiranya mereka lupa dengan kewajiban- kewajibannya mengganggu dan menggoda ketenteraman batin manusia.

Baca Juga:Wisata Bali: Menparekraf Pantau Kesiapan Pembukaan Pariwisata Pulau Dewata

Demikianlah hendaknya Hari Raya Galungan berlaku dengan aman dan diliputi suasana suci hening, mengsyukuri limpahan kemurahan Ida Sanghyang Widhi untuk keselamatan manusia dan seisi dunia.

Pada hari Saniscara Keliwon Wuku Kuningan (hari raya atau Tumpek Kuningan), Ida Sanghyang Widhi para Dewa dan Pitara-pitara turun lagi ke dunia untuk melimpahkan karuniaNya berupa kebutuhan pokok ini.

Pada hari itu dibuat nasi kuning, lambang kemakmuran dan dihaturkan sesajen-sesajen sebagai tanda terimakasih dan suksmaning idep kita sebagai manusia (umat) menerima anugrah dari Hyang Widhi berupa bahan-bahan sandang dan pangan yang semuanya itu dilimpahkan oleh beliau kepada umatNya atas dasar cinta-kasihnya. Di dalam tebog atau selanggi yang berisi nasi kuning tersebut dipancangkan sebuah wayang-wayangan (malaekat) yang melimpahkan anugrah kemakmuran kepada kita semua.

Demikian secara singkat keterangan-keterangan dalam merayakan Hari Raya Galungan dan Kuningan dalam pelaksanaan dari segi batin.

Kesimpulan: Dalam menyambut dan merayakan hari-hari raya itu, bergembiralah atas anugerah Hyang Widhi dalam batas-batas kesusilaan agama dan keprihatinan bangsa. Terangkan hati, agar menjadi Çura, Dira dan Deraka (berani, kokoh dan kuat), dalam menghadapi hidup di dunia.

Baca Juga:Wisata Bali: Indonesia Negosiasi ke Beberapa Negara Soal Travel Bubble

Hemat dan sederhanalah dalam mempergunakan biaya. Terakhir dan bahkan yang terpenting ialah mohon anugerah Hyang Widhi dengan ketulusan hati.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini

Tampilkan lebih banyak