Menghilangkan keletehan dari hati dalam masing-masing. Memperhatikan makna Hari Raya Galungan itu, maka patutlah pada waktu-waktu itu, umat bergembira dan bersuka ria. Gembira dengan penuh rasa Parama Suksma, rasa terima kasih, atas anugrah Hyang Widhi.

Gembira atas anugerah tadi, gembira pula karena Bhatara-bhatara, jiwa suci leluhur, sejak dari sugi manek turun dan berada di tengah-tengah pratisentana sampai dengan Kuningan.
Penjor terpancang di muka rumah dengan megah dan indahnya. Menjadi lambang pengayat ke Gunung Agung, penghormatan ke hadirat Ida Sanghyang Widhi. Janganlah penjor itu dibuat hanya sebagai hiasan semata-mata.
Lebih-lebih pada Hari Raya Galungan, karena penjor adalah suatu lambang yang penuh arti. Pada penjor digantungkan hasil-hasil pertanian seperti padi, jagung, kelapa, jajanan dan lain-lain, juga barang-barang sandang (secarik kain) dan uang.
Baca Juga:Wisata Bali: Menparekraf Pantau Kesiapan Pembukaan Pariwisata Pulau Dewata
Ini mempunyai arti sebagai penggugah hati umat, sebagai momentum untuk membangunkan rasa pada manusia, bahwa segala yang pokok bagi hidupnya adalah anugerah Hyang Widhi.
Semua yang dipergunakan manusia adalah karuniaNya, yang dilimpahkannya kepada semua karena cinta kasihNya. Marilah manusia bersama hangayu bagia, menghaturkan rasa Parama suksma.
Kita bergembira dan bersukacita menerima anugerah-anugerah itu, baik berupa material yang diperlukan bagi kehidupan, maupun dilimpahkan berupa kekuatan iman dan kesucian batin.
Dalam mewujudkan kegembiraan itu janganlah dibiasakan cara-cara yang keluar dan menyimpang dari kegembiraan yang berdasarkan jiwa keagamaan. Mewujudkan kegembiraan dengan judi, mabuk, atau pengumbaran indria dilarang agama.
Bergembiralah dalam batas-batas kesusilaan (kesusilaan sosial dan kesusilaan agama) misalnya mengadakan pertunjukkan kesenian, malam sastra, mapepawosan, olahraga dan lain-lainnya. Hendaklah kita berani merombak kesalahan-kesalahan/ kekeliruan-kekeliruan drsta lama yang nyata-nyata tidak sesuai atau bertentangan dengan ajaran susila.
Baca Juga:Wisata Bali: Indonesia Negosiasi ke Beberapa Negara Soal Travel Bubble
Selanjutnya oleh umat Hindu di Bali dilakukan persembahyangan bersama-sama ke semua tempat persembahyangan, misalnya di sanggah atau pemerajan, di pura-pura seperti pura-pura Kahyangan Tiga dan lain-lainnya.