- Nyepi merupakan hari raya Hindu penanda tahun baru Saka yang dijalani dalam keheningan total untuk refleksi diri.
- Petani Jatiluwih melaksanakan Nyepi Sawah selama dua hari (29-30/3/26) untuk menetralkan kekuatan negatif sawah.
- Ritual Nyepi Sawah ini sudah berlangsung turun-temurun sejak 1933 dan tidak mengganggu operasional pariwisata Jatiluwih.
SuaraBali.id - Tradisi Nyepi di Bali identik dengan suasana perkotaan yang sepi dan jauh dari kata keramaian.
Padahal, Nyepi sendiri merupakan hari raya umat Hindu yang menandai pergantian tahun baru dalam penanggalan Saka.
Meski demikian, Nyepi tidak disambut dengan pesta maupun keramaian seperti hari raya pada umumnya. Nyepi justru dijalani dalam keheningan total.
Seluruh aktivitas dihentikan, tidak ada satu pun orang yang diperbolehkan keluar rumah, toko ditutup, bahkan suara kendaraan nyaris tidak ada.
Tujuan Nyepi sendiri untuk refleksi diri, menenangkan pikiran serta menyucikan alam sekitar. Nyepi umumnya memang dilakukan di rumah masing – masing. Namun tidak menutup kemungkinan bisa dilakukan ditempat lain.
Di Bali, selain melakukan Nyepi di rumah, juga melestarikan tradisi Nyepi Sawah. Seperti yang dilakukan petani Jatiluwih, Kecamatan Penebel.
Mereka melakukan ritual Nyepi sawah, dengan menghentikan seluruh aktivitas pertanian di sawah.
Petani Jatiluwih melakukan tradisi Nyepi Sawah selama dua hari, mulai dari Minggu (29/3/26) hingga Senin (30/3/26).
Menurut kepercayaan Masyarakat setempat, ritual Nyepi Sawah ini merupakan tradisi untuk nyomia prewasia atau menetralisir kekuatan negative yang ada di sawah agar hasil panen baik dan melimpah.
Baca Juga: Pura Kramat Ratu Mas Sakti: Tempat Suci di Bali Diziarahi Umat Islam, Simbol Harmoni Lintas Iman
Ritual Nyepi Sawah ini juga sudah dilakukan secara turun – temurun dan dipatenkan sejak Tahun 1933. Dalam setahun, ritual ini biasa dilakukan sebanyak lima kali.
Nyepi Sawah dilakukan dengan cakupan lahan mencapai 227,41 hektare dan pelaksanaannya mengikuti siklus pertumbuhan padi.
Tradisi Nyepi Sawah yang dilakukan sebanyak lima kali tersebut rinciannya tiga kali saat penanaman padi beras merah dan dua kali saat fase padi masih muda atau padi cicih.
Rangkaian upacara Nyepi Sawah ini diawali dengan nunas tirta atau memohon air suci, kemudian dilakukan persembahyangan di Pura Pucak Petali dan Pura Candikuning sebagai pura penyiwian subak.
Ritual juga dilakukan di Pura Bedugul dan Pura Sawah di masing – masing wilayah Subak.
Dalam Tradisi Nyepi Sawah di Jatiluwih ini tidak menganggu aktivitas pariwisata. Aktivitas pertanian memang dihentikan, namun kegiatan pariwisata di DTW Jatiluwih tetap dibuka.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 HP Xiaomi dengan Snapdragon 8 Elite Gen 5, Terkencang di 2026!
- 7 Sepatu Lari Tahan Air Selevel Nike Vomero 18 GTX, Kualitas Top
- Sunscreen SPF 50 Apa yang Bagus? Ini 5 Pilihan untuk Perlindungan Maksimal
- Harga Pertamax Naik Nyaris Rp18.000 di April Besok? Ini Kata Pertamina
- Foto Pangakalan Militer AS di Arab Saudi Hancur Beredar, Balas Dendam Usai Trump Hina MBS
Pilihan
-
Mulai Besok! BPH Migas Resmi Batasi Pembelian Pertalite dan Solar, Cek Aturan Mainnya
-
Masyarakat Diminta Tak Resah, Mensesneg Prasetyo Hadi Tegaskan Harga BBM Belum Ada Kenaikan
-
Clara Shinta Minta Tolong, Nyawanya Terancam karena Suami Bawa Senjata Api
-
Harga Pertamax Naik Nyaris Rp18.000 di April Besok? Ini Kata Pertamina
-
Petir Bikin Duel Kepulauan Solomon vs Saint Kitts and Nevis di Stadion GBK Ditunda
Terkini
-
5 SMA Swasta Terbaik di Bali Punya Kurikulum Internasional, Lulusan Laris ke Luar Negeri
-
Petani Jatiluwih Gelar Tradisi Unik Nyepi Sawah
-
MPLS Adalah Singkatan Apa? Ini Semua Perlu Kamu Tahu Sebelum Masuk Sekolah Baru
-
Jurnalis Bali Jadi Korban Fitnah Keji di Medsos, Arya Wedakarna Minta Maaf
-
Pura Kramat Ratu Mas Sakti: Tempat Suci di Bali Diziarahi Umat Islam, Simbol Harmoni Lintas Iman