Muhammad Yunus
Selasa, 31 Maret 2026 | 15:38 WIB
Di Bali, selain melakukan Nyepi di rumah, juga melestarikan tradisi Nyepi Sawah. Seperti yang dilakukan petani Jatiluwih, Kecamatan Penebel [SuaraBali.id/Istimewa]
Baca 10 detik
  • Nyepi merupakan hari raya Hindu penanda tahun baru Saka yang dijalani dalam keheningan total untuk refleksi diri.
  • Petani Jatiluwih melaksanakan Nyepi Sawah selama dua hari (29-30/3/26) untuk menetralkan kekuatan negatif sawah.
  • Ritual Nyepi Sawah ini sudah berlangsung turun-temurun sejak 1933 dan tidak mengganggu operasional pariwisata Jatiluwih.

SuaraBali.id - Tradisi Nyepi di Bali identik dengan suasana perkotaan yang sepi dan jauh dari kata keramaian.

Padahal, Nyepi sendiri merupakan hari raya umat Hindu yang menandai pergantian tahun baru dalam penanggalan Saka.

Meski demikian, Nyepi tidak disambut dengan pesta maupun keramaian seperti hari raya pada umumnya. Nyepi justru dijalani dalam keheningan total.

Seluruh aktivitas dihentikan, tidak ada satu pun orang yang diperbolehkan keluar rumah, toko ditutup, bahkan suara kendaraan nyaris tidak ada.

Tujuan Nyepi sendiri untuk refleksi diri, menenangkan pikiran serta menyucikan alam sekitar. Nyepi umumnya memang dilakukan di rumah masing – masing. Namun tidak menutup kemungkinan bisa dilakukan ditempat lain.

Di Bali, selain melakukan Nyepi di rumah, juga melestarikan tradisi Nyepi Sawah. Seperti yang dilakukan petani Jatiluwih, Kecamatan Penebel.

Mereka melakukan ritual Nyepi sawah, dengan menghentikan seluruh aktivitas pertanian di sawah.

Petani Jatiluwih melakukan tradisi Nyepi Sawah selama dua hari, mulai dari Minggu (29/3/26) hingga Senin (30/3/26).

Menurut kepercayaan Masyarakat setempat, ritual Nyepi Sawah ini merupakan tradisi untuk nyomia prewasia atau menetralisir kekuatan negative yang ada di sawah agar hasil panen baik dan melimpah.

Baca Juga: Pura Kramat Ratu Mas Sakti: Tempat Suci di Bali Diziarahi Umat Islam, Simbol Harmoni Lintas Iman

Ritual Nyepi Sawah ini juga sudah dilakukan secara turun – temurun dan dipatenkan sejak Tahun 1933. Dalam setahun, ritual ini biasa dilakukan sebanyak lima kali.

Nyepi Sawah dilakukan dengan cakupan lahan mencapai 227,41 hektare dan pelaksanaannya mengikuti siklus pertumbuhan padi.

Tradisi Nyepi Sawah yang dilakukan sebanyak lima kali tersebut rinciannya tiga kali saat penanaman padi beras merah dan dua kali saat fase padi masih muda atau padi cicih.

Rangkaian upacara Nyepi Sawah ini diawali dengan nunas tirta atau memohon air suci, kemudian dilakukan persembahyangan di Pura Pucak Petali dan Pura Candikuning sebagai pura penyiwian subak.

Ritual juga dilakukan di Pura Bedugul dan Pura Sawah di masing – masing wilayah Subak.

Dalam Tradisi Nyepi Sawah di Jatiluwih ini tidak menganggu aktivitas pariwisata. Aktivitas pertanian memang dihentikan, namun kegiatan pariwisata di DTW Jatiluwih tetap dibuka.

Load More