- Gubernur Bali mendorong masyarakat mengurangi konsumsi nasi dan beralih ke singkong dan jagung sebagai transformasi pola makan.
- Politisi Ni Luh Djelantik mengkritik fokus pada pola makan sebelum menyelesaikan isu kesejahteraan dan regenerasi petani Bali.
- Djelantik mengusulkan pembentukan akademi tani, perbaikan irigasi, dan stabilisasi harga beras demi petani.
SuaraBali.id - Gubernur Bali, Wayan Koster, meminta masyarakat Bali mulai mengurangi ketergantungan pada nasi dengan beralih mengonsumsi alternatif pangan seperti singkong dan jagung.
Menurut Koster, langkah tersebut merupakan bagian dari proses transformasi pola konsumsi masyarakat agar tidak bergantung pada satu jenis bahan pangan saja.
Namun pernyataan itu menuai tanggapan dari politisi Bali, Ni Luh Djelantik atau yang akrab disapa Mbok Niluh. Ia menilai wacana tersebut belum menjadi hal yang mendesak untuk saat ini.
Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, Mbok Niluh menegaskan bahwa pemerintah seharusnya lebih dulu memprioritaskan nasib dan kesejahteraan petani di Bali.
“Banyak petani Bali sudah lanjut usia, regenerasi sangat minim karena profesi petani hari ini bagai telur diapit batu,” tulis Mbok Niluh dalam unggahannya, Senin (30/3/2026).
Ia mengusulkan agar pemerintah mendorong lahirnya akademi atau sekolah bertani sebagai upaya regenerasi petani di Bali.
Menurutnya, program tersebut juga dapat membuka peluang ekonomi tambahan bagi petani.
“Ayo dong bikin Akademi/Sekolah Bertani. Regenerasi bisa diciptakan dan petani bisa dapat tambahan pemasukan dengan menjadi pelatih atau trainer. Bahkan bisa jadi tambahan sektor pariwisata karena wisatawan bisa belajar cara bertani, bukan cuma menikmati keindahan sawah,” ujarnya.
Selain soal regenerasi, Mbok Niluh juga mengingatkan masih banyak pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan pemerintah daerah, mulai dari perbaikan irigasi hingga pembangunan jalan usaha tani.
Baca Juga: Ingin Tubuh Gemuk Tanpa Harus Makan Nasi? Ini Solusinya!
“…kewajiban Anda yaitu memperbaiki semua saluran irigasi yang rusak, membangun jalan usaha tani yang layak,” tulisnya.
Ia juga meminta pemerintah mendukung stabilitas harga beras agar sesuai dengan jerih payah petani.
Salah satunya dengan memastikan distribusi gabah berjalan lancar hingga dapat diserap oleh Bulog.
“Berikan support agar gabah bisa ditransportasi hingga di jalan atau lokasi di mana Bulog siap mengambil agar harga sesuai dengan jerih payah petani,” katanya.
Tak hanya itu, Mbok Niluh juga mendorong pemerintah membantu promosi beras lokal agar lebih terserap pasar.
Ia bahkan mengusulkan pemerintah membeli beras langsung dari subak untuk kemudian dijual kepada masyarakat dengan harga terjangkau melalui program pasar murah.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Mobil Listrik Paling Murah di 2026 untuk Harian, Harga Mulai Rp60 Jutaan
- Iran Sakit Hati Kapal dan Minyak Miliknya Rp 1,17 triliun Dilelang Indonesia
- Catat Tanggalnya! Ribuan Warga Badui Bakal Turun Gunung Temui Gubernur Banten Bulan April
- 7 Sepatu Lari yang Awet untuk Pemakaian Lama, Nyaman dan Tahan Banting
- 63 Kode Redeem FF Max Terbaru 27 Maret 2026: Klaim Bundel Panther, AK47, dan Diamond
Pilihan
-
1 Prajurit TNI di Lebanon Gugur Dibom Israel, 3 Lainnya Luka-luka
-
Mengamuk! Timnas Indonesia Hantam Saint Kitts dan Nevis Empat Gol
-
Skandal Rudapaksa Turis China di Bali: Pelaku Ditangkap Saat Hendak Kembalikan iPhone Korban!
-
Arus Balik Susulan, 14 Ribu Kendaraan Diprediksi Lewat GT Purwomartani Sabtu Ini
-
Fokus Timnas Indonesia, John Herdman Ogah Ikut Campur Polemik Paspor Dean James
Terkini
-
Gubernur Bali Minta Warga Ganti Nasi dengan Singkong, Mbok Niluh Balas dengan Ini
-
Tips Masuk Sekolah Favorit Sesuai Minat dan Kemampuan
-
Jadi Lokasi Wisata, Desa Hendrosari Kini Berdaya Memicu Tumbuhnya Usaha Baru Masyarakat
-
Dari Modal Terbatas, BRILink Agen di Bakauheni Jadi Andalan Transaksi Masyarakat
-
Desa BRILiaN Tompobulu, Sinergi Potensi Lokal dan Digitalisasi Perkuat Ekonomi Berkelanjutan