- Akademisi Universitas Udayana, Prof. Ni Luh Kartini, melaporkan penurunan kualitas air pada empat danau besar di Bali akibat pencemaran.
- Aktivitas pertanian, limbah domestik, dan sedimentasi menyebabkan eutrofikasi, pendangkalan signifikan, serta mengancam keberlangsungan ekosistem ikan lokal di kawasan danau.
- Penyelesaian masalah memerlukan penerapan pertanian organik, pengawasan ketat sempadan danau, serta kolaborasi lintas pihak demi kelestarian lingkungan berkelanjutan.
SuaraBali.id - Pemerhati lingkungan sekaligus akademisi Universitas Udayana Prof. Ni Luh Kartini menyoroti kondisi kualitas air danau-danau di Bali yang dinilai terus mengalami penurunan akibat pencemaran, sedimentasi, hingga aktivitas manusia di kawasan sekitar danau.
Prof. Kartini mengatakan sebagian besar danau di Bali yang berada di kawasan pertanian kini menghadapi ancaman serius akibat penggunaan pestisida, pupuk kimia, limbah domestik, serta erosi lahan.
Kondisi tersebut menyebabkan perairan danau menjadi semakin subur atau mengalami eutrofikasi yang berdampak pada menurunnya kadar oksigen di dalam air.
“Kalau dilihat sekarang, air Danau Batur sudah mulai berwarna hijau. Itu artinya kandungan oksigennya menurun dan menyebabkan kematian ikan,” ujarnya, Jumat (15/5).
Adapun empat danau besar di Bali yakni Danau Beratan, Danau Tamblingan, Danau Batur dan Danau Buyan.
Ia menjelaskan, berdasarkan hasil analisis sejumlah parameter kualitas air, kondisi beberapa danau di Bali kini berada pada kategori kelas tiga menuju kelas empat apabila tidak segera dilakukan penanganan serius.
Selain pencemaran, sedimentasi juga disebut menjadi persoalan utama yang menyebabkan pendangkalan danau.
Prof. Kartini mengungkapkan kedalaman sejumlah danau di Bali mengalami penurunan signifikan dibandingkan kondisi sebelumnya.
“Danau Buyan yang dulu kedalamannya mencapai sekitar 140 meter sekarang tinggal sekitar 80 meter. Begitu juga Danau Batur yang sebelumnya mencapai 120 meter kini berkisar 64 hingga 80 meter,” katanya.
Baca Juga: Men Jenggo Berpulang, Ternyata Ini Asal Usul Unik 'Nasi Jinggo' Wajib Diketahui Pecinta Kuliner
Ia menambahkan, sedimentasi tersebut turut berdampak pada menurunnya debit mata air yang selama ini menjadi sumber air bagi masyarakat.
Bahkan, menurutnya, beberapa sumber mata air yang terhubung dengan Danau Batur kini mulai mengecil akibat tertutup sedimentasi.
Selain itu, keberadaan keramba jaring apung dan ikan invasif jenis red devil di Danau Batur juga menjadi perhatian serius. Prof. Kartini menyebut populasi ikan red devil kini mendominasi hingga sekitar 60 persen dan mengancam keberadaan ikan lokal endemik.
“Ikan red devil mampu hidup di kondisi oksigen rendah sehingga sangat cepat berkembang dan menghabiskan ikan lokal,” ujarnya.
Untuk memulihkan ekosistem danau, Prof. Kartini menekankan pentingnya penerapan sistem pertanian organik di kawasan sekitar danau, pengelolaan limbah domestik dan sampah secara terpadu, serta pengawasan terhadap pembangunan di sempadan danau.
Ia juga menilai pemerintah sebenarnya telah menunjukkan keseriusan dalam menangani persoalan lingkungan melalui pembentukan kelompok kerja percepatan penanganan sampah dan lingkungan. Namun demikian, menurutnya, upaya tersebut masih membutuhkan pendampingan intensif kepada masyarakat.
Berita Terkait
Terpopuler
- Promo Long Weekend Alfamart, Diskon Camilan untuk Liburan sampai 60 Persen
- Jokowi Sembuh dan Siap Keliling Indonesia, Pengamat: Misi Utamanya Loloskan PSI ke Senayan!
- Siapa Ayu Aulia? Bongkar Ciri-ciri Bupati R yang Membuatnya Kehilangan Rahim
- 3 Sepatu Lari Skechers Terbaik untuk Pemula dan Pelari Harian
- 6 Warna Pakaian yang Dipercaya Bawa Keberuntungan untuk Shio di Tahun Kuda Api 2026
Pilihan
-
Di Tengah Maraknya Klitih, Korban Kejahatan di Jogja Harus Cari Penjamin Biaya Medis Sendiri
-
Admin Fansbase Bawa Kabur Duit Patungan Voting, Rio Finalis Indonesian Idol Tereliminasi
-
Menilik Sepatu Lari 'Anak Jaksel' di Lapangan Banteng: Brand Lokal Mulai Mendominasi?
-
SMAN 1 Pontianak Tolak Ikut Lomba Ulang, Sampaikan Salam: Sampai Jumpa di LCC Tahun Depan!
-
Keluar Kau Setan! Ricuh di Pertemuan Donald Trump dan Xi Jinping
Terkini
-
Bali Segera Punya Pembangkit Listrik Tenaga Sampah, Pakai Teknologi Canggih Tiongkok
-
Review Spesifikasi Dan Keunggulan TV LG 50 Inch Garansi Resmi
-
Mendaki Rinjani Makin Nyaman: Kini Tersedia Rest Shelter Canggih dengan Panel Surya
-
Tren Femisida Seksual Meningkat di 2025: Korban Didominasi Perempuan Muda hingga Anak
-
ITDC Perkuat Sistem Keselamatan di Sirkuit Mandalika