- Tradisi Marpangir di Sumatera Utara adalah mandi pembersihan diri fisik dan rohani menyambut Ramadan.
- Masyarakat Mandailing melaksanakan Marpangir pada hari terakhir Bulan Sya'ban menggunakan ramuan rempah alami.
- Ramuan pangir dari bahan seperti daun jeruk dan akar wangi direbus untuk ritual penyucian menyambut Ramadan.
SuaraBali.id - Tradisi menjelang Bulan Ramadan di daerah Sumatera Utara masih sangat kental. Salah satunya yang terus dilestarikan yakni Tradisi Marpangir.
Marpangir dilakukan dengan mandi untuk membersihkan diri dari hal – hal negatif.
Biasanya Masyarakat Mandailing melakukan hal ini di hari terakhir Bulan Sya’ban (H-1 Ramadan).
Tak hanya mandi, namun juga menggunakan wangi – wangian dari jenis bunga yang mengeluarkan bau harum.
Bagaimanakah tata cara dari Tradisi Marpangir ini?
Marpangir (mandi pangir) dilakukan dengan cara mandi dan keramas menggunakan ramuan ‘pangir’ atau rempah. Mandi untuk membersihkan diri ini dilakukan di Sungai.
Marpangir sendiri berasal dari kata ‘Pangir’ yang memiliki arti ramuan. Sementara dalam Bahasa Batak Mandailing, Marpangir memiliki arti bersih atau pembersihan.
Sehingga istilah Marpangir ini dapat diartikan sebagai pembersihan menggunakan ramuan pangir yang merupakan bahan – bahan alami.
Masyarakat sekitar percaya bahwa tradisi ini sebagai bentuk penyucian diri secara fisik maupun Rohani.
Baca Juga: Dile Jojor Dalam Tradisi Maleman oleh Warga Ombe di Lombok Barat
Setiap menjelang Ramadan, Masyarakat Sumatera masih melakukan tradisi ini sebagai bentuk penyucian diri dengan tujuan agar jiwa dan raganya bersih dalam menyambut Bulan Suci Ramadan.
Selain itu, rempah – rempah yang digunakan untuk mandi ini membuat jiwa dan raga kembali segar serta bersemangat untuk menyambut Ramadan.
Satu hari menjelang Ramadan, biasanya Masyarakat Sumatera Utara berbondong – bondong membawa ramuan pangir ke Sungai.
Bahan – bahan alami ‘Pangir’ dari apa saja?
Mandi di zaman dulu bukanlah menggunakan sabun maupun shampoo. Pasalnya, dizaman dahulu belum tersedia bahan – bahan tersebut, alhasil mereka berinisiatif menggantinya dengan wewangian alami.
Sebagai gantinya, mereka menggunakan bahan alami atau rempah, seperti daun jeruk, akar wangi, daun pandan, bunga kenanga, jeruk purut dan akar pinang.
Berita Terkait
Terpopuler
- Wabup Syaefudin Ditahan karena Kasus Korupsi, Bupati Lucky Hakim Minta Maaf ke Pemilih
- Dingatkan Teddy Segera Akhiri Pidato, Prabowo: Letkol Ngatur Presiden
- Ajudan Gubernur Kaltim Masuk Desil 1 DTSEN, Mensos Buka Suara
- 4 Sunscreen Wardah untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas
- Tak Masuk Skuad Utama Persija, Kualitas Shayne Pattynama di Bawah Standar Shin Tae-yong
Pilihan
-
Prabowo Tak Takut Ancaman MSCI, OJK: Kita Tetap Usaha Jadi Emerging Market
-
Pasar Bergejolak, Kapan Waktunya Beli, Tahan, atau Jual Saham?
-
Aktivis Greenpeace: Kalau Rakyat Menanggung Semua Krisis Sendiri, Apa Kerja Pemerintah?
-
Polisi Bunuh Polisi karena Bully, Bharatu Valdo 4 Kali Didor dan Digorok Junior
-
Kamaruddin Simanjuntak Pengacara Brigadir J Meninggal Dunia di RS Pelni
Terkini
-
Diskon Pemeriksaan Laboratorium Hingga MCU Prodia, Ini Manfaat dari BRI untuk Nasabah Prioritas
-
Kementerian Transmigrasi dan Komisi V DPR RI Serahkan 109 SHM Warga Transmigrasi Lombok Timur
-
BRI Siapkan Buyback Saham Tahap II Rp1 Triliun, Optimistis terhadap Prospek Jangka Panjang
-
3.764 Anak Jadi Korban Kekerasan Seksual dan Fisik di NTB dalam Enam Tahun
-
Tabanan Bali Diselimuti Kabut Putih Misterius, Ini Penjelasan Ilmiah BMKG