Muhammad Yunus
Selasa, 02 Juni 2026 | 14:03 WIB
Ilustrasi pantai Lombok, NTB [Freepik]
Baca 10 detik
  • BMKG melaporkan kenaikan suhu minimum rata-rata sebesar dua derajat Celcius di wilayah Nusa Tenggara Barat selama dua hari terakhir.
  • Melemahnya hembusan Angin Monsun Australia dari Benua Australia mengurangi pasokan massa udara dingin dan kering ke wilayah tersebut.
  • Peningkatan kelembapan udara mendorong pertumbuhan awan yang menghambat pelepasan panas bumi sehingga udara terasa lebih hangat saat malam.

SuaraBali.id - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan suhu minimum rata-rata naik dua derajat Celcius dalam dua hari terakhir yang membuat udara malam hingga pagi terasa lebih hangat di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB).

"Suhu minimum rata-rata dalam dua hari terakhir tercatat sekitar 20,5 derajat Celcius lebih tinggi dibandingkan suhu minimum terendah yang sempat mencapai 18,5 derajat Celcius pada periode sebelumnya," kata Ketua Kelompok Kerja Observasi, Data, dan Informasi Stasiun Meteorologi Zainuddin Abdul Madjid (ZAM) Ari Wibianto di Mataram, Selasa (2/6).

Ari mengatakan suhu udara yang kembali normal dalam beberapa hari terakhir dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya hembusan Angin Monsun Australia yang melemah.

Angin Monsun Australia bertiup dari arah timur menuju barat, yakni dari Benua Australia bertekanan tinggi menuju Benua Asia yang bertekanan rendah. Angin itu membawa membawa massa udara dingin dan kering ke wilayah NTB.

Jika sebelumnya angin timuran yang cukup kuat membawa massa udara dingin dari Australia yang sedang memasuki musim dingin, maka dua hari terakhir kecepatan angin cenderung melemah membuat pasokan udara dingin dari wilayah Australia juga berkurang.

"Beberapa hari terakhir kecepatan angin cenderung melemah, sehingga pengaruh massa udara dingin dari Australia berkurang," papar Ari.

Lebih lanjut ia mengungkapkan kondisi atmosfer juga terindikasi lebih lembab dibandingkan beberapa pekan sebelumnya.

Kondisi itu mendukung pertumbuhan awan lebih banyak, walaupun tidak sebanyak saat musim penghujan.

Keberadaan awan dan kelembaban yang meningkat menyebabkan pelepasan panas saat malam hari tidak berlangsung seefektif ketika kondisi langit cerah, sehingga suhu udara menjadi lebih tinggi.

Baca Juga: Kenapa Udara Dingin Australia Pengaruhi Suhu di Bali? Ini Penjelasan BMKG

BMKG memperkirakan kondisi suhu udara yang relatif lebih hangat masih berpotensi bertahan dalam beberapa hari ke depan selama Angin Monsun Australia tidak kembali menguat dan kelembapan udara tetap berada pada level yang cukup tinggi.

Berdasarkan pemberitaan sebelumnya pada akhir Mei 2026, suhu udara dingin sempat melanda seluruh wilayah NTB. Penduduk pesisir yang terbiasa dengan suhu hangat terpaksa harus menggunakan jaket saat beraktivitas di luar rumah.

BMKG memaparkan penyebab cuaca terasa dingin pada malam hingga pagi hari disebabkan oleh tiga faktor, yakni tutupan awan yang sedikit saat siang atau sore hari.
Situasi itu membuat proses pelepasan panas ke atmosfer saat malam hari berlangsung sangat cepat tanpa ada penghalang awan.

Faktor lain adalah kelembaban udara yang rendah, sehingga permukaan bumi tidak bisa menahan panas lebih lama setelah matahari terbenam. Alhasil, udara dingin dari lapisan atmosfer atas lebih mudah turun ke permukaan.

Faktor terakhir yang menyebabkan suhu udara menjadi dingin adalah pergerakan angin di wilayah NTB sudah memasuki Monsun Australia yang membawa massa udara bersifat kering.

Load More