- Pemerintah Provinsi NTB menetapkan UMP tahun 2026 naik sebesar Rp70.930, menjadi total Rp2.673.381.
- Penetapan ini diputuskan berdasarkan formula pusat, mempertimbangkan pertumbuhan ekonomi dan kesepakatan tripartit.
- Pihak terkait menekankan pentingnya pengawasan realisasi UMP di lapangan guna menghindari sanksi bagi pelanggar.
SuaraBali.id - Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menetapkan upah minimum provinsi (UMP) sebesar Rp70.930 atau sebesar 2,725 persen.
Dengan kenaikan tersebut, UMP NTB tahun 2026 sebesar Rp2.673.381. Sedangkan UMP NTB tahun 2025 yaitu Rp2.602.931 naik sebesar 6,5 persen atau Rp158.864
Gubernur NTB Lalu Muhammad Iqbal mengatakan untuk penetapan UMP tahun 2026 ini sudah melalui proses yang cukup panjang.
Keputusan untuk menaikkan UMP sebesar Rp70.930 itu berdasarkan beberapa pertimbangan salah satunya pertumbuhan ekonomi.
“Tugas kita di Provinsi hanya memasukkan parameter sesuai dengan formula yang sudah ditetapkan pemerintah pusat. Sampai keputusan dan diskusi dengan semua pihak menaikkan UMP dengan kenaikan sekitar Rp70 ribu,” katanya Senin (22/12).
Penetapan UMP NTB 2026 ini yaitu paling lambat pada tanggal 24 Desember 2025. Kebijakan pengupahan ini diharapkan menjadi kebijakan yang seimbang dan terbaik bagi seluruh pihak.
Ia mengatakan, besaran UMP ini berdasarkan kesepakatan tripartite yaitu pemerintah, pengusaha dan pekerja.
“Angka yang disampaikan ke saya itu sudah jelas. Karena opsi ini dibangun dengan formula yang sudah ditetapkan berdasarkan aturan pemerintah,” katanya.
Penetapan UMP tersebut dilakukan berdasarkan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.
Baca Juga: Tidak Bisa Diselamatkan, 518 Honorer Pemprov NTB Putus Kontrak Akhir Desember
Antara lain, peraturan pemerintah nomor 49 tahun 2025 tentang perubahan kedua atas peraturan pemerintah nomor 36 tahun 2021 tentang pengupahan.
Beberapa pertimbangan pemerintah dalam penetapan UMP yaitu inflasi, pertumbuhan ekonomi, stabilitas perekonomian daerah, kebutuhan hidup layak, produktivitas tenaga kerja dan kemampuan dan keberlangsungan usaha.
“Terjadi kontraksi yang cukup besar diawal tahun 2025 tri Wulan pertama. Kelesuan itu mulai teratasi dan akan mempengaruhi UMP,” katanya.
Dikatakan Iqbal, yang terpenting setelah penetapan adalah pengawasan di lapangan. Karena berapapun kenaikan yang ditetapkan harus diterapkan oleh para pengusaha.
“Yang penting setelah penetapan ini adalah pengawasan,” katanya.
Sementara itu, Ketua DPD KSPSI NTB, Yustinus Habur memastikan UMP NTB bisa berjalan di lapangan. Hanya saja, dari pengawasan yang dilakukan setelah ditetapkan masih ada yang tidak menerapkannya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Pelembap Viva Cosmetics untuk Mencerahkan Wajah dan Hilangkan Flek Hitam, Dijamin Ampuh
- Siapa Saja Tokoh Indonesia di Epstein Files? Ini 6 Nama yang Tertera dalam Dokumen
- 24 Nama Tokoh Besar yang Muncul di Epstein Files, Ada Figur dari Indonesia
- 5 Smart TV 43 Inci Full HD Paling Murah, Watt Rendah Nyaman Buat Nonton
- Adu Tajam! Persija Punya Mauro Zijlstra, Persib Ada Sergio Castel, Siapa Bomber Haus Gol?
Pilihan
-
Menuju Juara Piala Asia Futsal 2026: Perjalanan Timnas Futsal Indonesia Cetak Sejarah
-
PTBA Perkuat Hilirisasi Bauksit, Energi Berkelanjutan Jadi Kunci
-
Klaten Berduka! Wakil Bupati Benny Indra Ardianto Meninggal Dunia
-
Kisah Petani Gurem, Dihantui Pangan Murah Rendah Gizi
-
Ketika Hujan Tak Selalu Berkah, Dilema Petani Sukoharjo Menjaga Dapur Tetap Ngebul
Terkini
-
DJ Turki Dibekuk di Bali Bawa Kokain dari Brasil Senilai Rp9,1 Miliar
-
Bali Jadi Markas Judi Online, 35 WNA India Diringkus
-
Pantai Sanur Penuh Sampah, Ini Tindakan Pemkot Denpasar
-
Begini Strategi Telkom Hadapi Disrupsi Teknologi dan AI
-
Konflik Tanah Adat, Pemerintah Didesak Kaji Pembatalan Konsensi Tambang AMNT