- Kementerian P2MI menyatakan sektor kesehatan dan tukang las kurang diminati, padahal terdapat ribuan lowongan kerja global yang tersedia.
- Indonesia memiliki kelebihan tenaga produktif yang dibutuhkan negara Eropa, namun baru 20% dari 350 ribu lowongan terisi.
- P2MI menjamin keamanan calon PMI dengan pemetaan negara tujuan dan meningkatkan kompetensi serta *soft skill* mereka.
SuaraBali.id - Kementerian Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) mengungkap tenaga kesehatan hingga tukang las (welder) adalah sektor yang selama ini kurang diminati calon Pekerja Migran Indonesia (PMI).
Padahal, masih ada ribuan permintaan untuk sektor tersebut yang masih terbuka.
Menteri P2MI, Mukhtarudin menjelaskan jika pekerja sektor kesehatan seperti perawat itu sangat dibutuhkan di luar negeri.
Namun, negara yang memiliki permintaan tinggi terhadap nakes itu justru kekurangan tenaga produktif untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja yang ada.
Sementara, Indonesia disebut memiliki bonus demografi yang bisa membuat kelebihan tenaga produktif untuk disebar ke negara yang memerlukan.
“Sektor-sektor kesehatan, perawat, nurse itu sangat tinggi (peminatnya), welder (tukang las),” ujar Mukhtarudin saat ditemui dalam kegiatan Pelepasan Terapis Kebugaran di Denpasar, Kamis (4/12/2025).
“Kita ini kan bonus demografi ya, negara-negara Eropa dan sebagainya sudah kurang populasi di sana, kekurangan tenaga produktif. Kita kelebihan tenaga produktif,” tuturnya.
Pihaknya mencatat jika ada 350 ribu lowongan kerja di seluruh dunia yang bisa dimasuki PMI. Namun, sejauh ini baru 20 persen dari jumlah tersebut yang bisa diisi.
Menurutnya, Indonesia bukannya kekurangan Sumber Daya Manusia, melainkan kekurangan SDM yang berkompeten. Sehingga, dia memang menyiapkan program kompetensi yang mesti dijalankan calon PMI agar dapat bekerja di luar negeri.
Baca Juga: Santunan dan Pemulangan Jenazah WNI Korban Kebakaran Hongkong Ditanggung Pemerintah
“Data kita dalam SISKO itu ada 350 ribuan lowongan kerja luar negeri yang terdaftar di kita. Itu baru 20 persen yang bisa kita isi, masih ada 80 persen yang belum bisa kita isi,” paparnya.
Mukhtarudin menjamin jika PMI yang dikirim akan dilengkapi set kemampuan dan kompetensi. Selain kemampuan untuk pekerjaan, termasuk juga kemampuan Bahasa dan soft skill sehingga PMI mampu kerasan.
Dia juga menjamin keamanan PMI yang dikirim ke luar negeri. Mukhtarudin menyebut pihaknya sudah memetakan negara-negara yang cocok dikerjasamakan untuk mengirim PMI.
Dia menjamin tidak akan mengirim PMI ke negara yang tidak aman atau sedang terlibat konflik.
“Tidak mungkin kita mengirim pekerja migran ke daerah konflik, negara-negara yang tidak aman, negara-negara yang mungkin tidak kondusif dengan pekerja migran kita tidak akan melakukan itu,” tutur Mukhtarudin.
Dia menyebut tahun 2025 ini sudah melepas sekitar 260 ribu PMI dari berbagai sektor. Jumlah tersebut sudah memenuhi targetnya tahun ini yang mencapai 250 ribu PMI.
Kontributor : Putu Yonata Udawananda
Berita Terkait
Terpopuler
- Eks Kepala BGN Dadan Hindayana Dijemput Kejagung, 2 Lainnya Dikejar untuk Ditangkap
- Eks Kepala BGN Dadan Hindayana Diperiksa Kejagung, Lodewyk Pusung dan Sony Sanjaya Ikut Diciduk
- 5 Motor yang Jadi Mimpi Buruk Mekanik, Montir Langsung Pura-Pura Sibuk
- realme C100i Jadi Andalan Anak Muda, Baterai Awet 6 Tahun dan Reverse Charging
- 5 HP dengan Kamera Telefoto Terbaik untuk Konten Media Sosial
Pilihan
-
Mengejutkan! Ini Pesan Terakhir Wamen Imipas Silmy Karim Sebelum Dicari KPK Terkait OTT Imigrasi
-
Siasat Dadan Hindayana Cs Korupsi MBG: Pakai Yayasan Sendiri, Sedot Miliaran Rupiah Tiap Hari!
-
Momen Unik Penahanan Dadan Cs, Satu Tersangka Tertinggal Mobil Tahanan hingga 'Dikepung' Wartawan
-
Pakai Rompi Pink dan Diborgol, Kejagung Resmi Tahan Eks Kepala BGN Dadan Hindayana Cs
-
Drama 'Penjemputan' Dadan Hindayana Cs, Ada yang Sempat Lari ke Jabar
Terkini
-
Penampakan Kebakaran Bukit Savana Propok Kawasan Gunung Rinjani
-
Paket Misterius dari Australia Tiba di Lombok, Ini Isinya
-
Perdagangan Gading Gajah di Bali Terbongkar
-
Kepala BGN Dicopot, Bagaimana Nasib Makan Siang Gratis? Ini Jawaban Satgas NTB
-
Suhu Ekstrem di Gunung Rinjani, Ini Tips Hindari Hipotermia Saat Mendaki