Scroll untuk membaca artikel
Eviera Paramita Sandi
Jum'at, 28 Januari 2022 | 13:42 WIB
Tuan Guru Bajang (TGB) Zainul Majdi. (Suara.com/Dwi Bowo Raharjo)

SuaraBali.id - Dr. Zainul Majdi atau Tuan Guru Bajang menyorot soal konten dakwah pemuka agama yang sering memantik munculnya friksi hingga konflik. Hal tersebut tak jarang menimbulkan gejolak di tengah masyarakat.

TGB menganalogikan jika Indonesia adalah manusia, maka tulang belakangnya adalah persaudaraan antar elemen bangsa. 

"Jika tulang belakangnya lemah, kita memberikan isu-isu SARA, kita membiarkan sentimen keagamaan itu diarahkan untuk hal-hal yang memancing pertentangan, memancing perselisihan itu sama artinya dengan melemahkan tulang belakang," jelas TGB pada Jumat, (28/1/2022).

Menurut TGB, memang masih ada yang gemar menghadirkan narasi yang menyebabkan pertentangan. Menyebabkan perselisihan.

"Kami di NWDI meminta untuk yuk kita hentikan, cukuplah menjadi pembelajaran apa yang sudah terjadi," bebernya.

Sikap-sikap memandang saling curiga, membenci orang yang berbeda kata TGB merupakan benih-benih perpecahan.

"Itu cost yang menurut saya tidak bisa dikuantifikasi atau dirupiahkan, karena itu saya mengajak agar hal-hal seperti itu kita hentikan, mari kita kembali kepada narasi yang memandang perbedaan itu sebagai kekayaan," kata mantan anggota DPR RI itu.

Sebagai Ketua Umum Nahdatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI) TGB menyebutkan secara mendasar NWDI memiliki manhaj atau konsep dakwah yang dikenal dengan ahlussunnah waljamaah. 

Manhaj ahlussunnah, kata TGB merupakan manhaj yang mainstream di Indonesia bahkan di dunia. Ahlussunnah mengedepankan kearifan dalam berdakwah.

Mengedepankan dialog, mengedepankan saling menghormati antar seluruh elemen bangsa. Termasuk diantaranya adalah mengedepankan perjumpaan yang baik antara agama dan budaya.

Load More