Muhammad Yunus
Senin, 19 Januari 2026 | 16:34 WIB
Umat Islam menggelar makan bersama atau megibung saat berbuka puasa di Masjid Baitul Makmur, Denpasar, Bali, Jumat (8/4/2022). [ANTARA]
Baca 10 detik
  • Tradisi Megibung, warisan budaya Bali, dilestarikan muslim setempat menjelang Ramadan.
  • Tradisi Megibung diperkenalkan oleh Raja Karangasem pada tahun 1692 Masehi saat istirahat perang.
  • Megibung merupakan makan bersama yang ditetapkan Warisan Budaya Tak Benda Indonesia sejak 2018.

SuaraBali.id - Tradisi menjelang Ramadan rupanya tidak hanya ada dilingkungan yang didominasi umat muslim saja.

Pasalnya, sampai saat ini Pulau Bali masih melestarikan tradisi unik untuk menyambut Bulan Ramadan. Padahal, pulau ini didominasi oleh umat beragama Hindu.

Hal ini menunjukkan bahwa Tingkat toleransi Masyarakat Bali terhadap tradisi keagamaan sangat besar.

Tradisi menjelang Ramadan yang masih dilestarikan di Bali ini yakni Tradisi Megibung.

Tradisi ini sudah ada sejak 1692 Masehi. Berikut fakta – fakta mengenai Tradisi Megibung:

1. Dikenalkan oleh Raja Karangasem

Tradisi Megibung ini awalnya dikenalkan oleh Raja Karangasem, yakni I Gusti Agung Anglurah Ketut Karangasem pada Tahun 1614 Caka atau 1692 Masehi.

Saat itu, Karangasem dalam ekspedisinya menaklukkan Raja – raja yang ada di tanah Lombok.

Ketika istirahat dari peperangan, raja menganjurkan semua prajuritnya makan bersama dalam posisi melingkar.

Baca Juga: Ingin Tetap Langsing Saat Puasa? Ini Tips Diet di Bulan Ramadan

Tradisi ini akhirnya dikenal dengan Megibung.

2. Megibung dari Karangasem

Tradisi ini masih terus dilestarikan di kalangan muslim Bali, khususnya di Karangasem.

Megibung adalah makan bersama yang menjadi sarana untuk mempererat hubungan antaranggota Masyarakat menjelang Bulan Ramadan.

3. Etika saat Megibung

Bukan hanya sekedar melakukan makan bersama, ada beberapa etika yang perlu diperhatikan saat acara Megibung.

Load More