SuaraBali.id - Banyak hal reflektif bisa dipetik dari perayaan Hari Suci Nyepi. Tidak saja bagi yang beragama Hindu, namun secara umum. Bahkan tidak saja hanya saudara sebangsa. Lain kebangsaan pun bisa. Dengan prinsip toleransi dan keseimbangan.
Dikutip dari BeritaBali.com, jaringan SuaraBali.id, sebagai daerah pariwisata, Bali menghadapi banyak cobaan di saat penyelenggaraan Nyepi di tahun-tahun silam. Sehingga alih-alih kegiatan bisa dihentikan, ada saja pernak-pernik yang bisa menjadi bahan perenungan.
Contohnya pada Nyepi 20 Maret 1969. Bupati Badung dan Gubernur Bali menolak permohonan Garuda terbang di hari itu. Namun masih dibolehkan transit. Penerbangan yang dianggap sebagai aktivitas dengan koneksi internasional lama sekali tidak bisa dihentikan di Bali saat Nyepi.
Akibatnya, pegawai biro perjalanan dan hotel harus mendapat dispensasi untuk menjemput dan mengantar tamunya ke bandara.
Pada 1970-an hingga sekita 1990-an, banyak karyawan yang bekerja di sektor pariwisata meminta dispensasi untuk bekerja saat Nyepi. Karena masyarakat yang merayakan Nyepi merasa terganggu, jumlah dispensasi makin ditekan.
Baru sesudah reformasi, mulai 1999 atau 2000, pemerintah daerah dan lembaga masyarakat lainnya bisa mendesak pemerintah agar menutup Bandar Udara Ngurah Rai saat Nyepi.
Kini pelabuhan dan bandara ditutup sepenuhnya untuk semua penerbangan pada Hari Raya Nyepi.
Kinerja pecalang pun semakin optimal dalam menertibkan Nyepi, seiring meningkatnya kesadaran masyarakat dalam memaknai dan menjalankan proses ibadat ini secara khusyuk dan hening.
Dunia luar pun angkat topi dalam menghormati tradisi dan toleransi serta pentingnya momentum ini bagi warga Pulau Dewata. Satu hari dan satu malam atau 24 untuk meniadakan segala keriuhan duniawi adalah keindahan, mengingat keramaian dan aktivitas berjalan tiada henti dalam setahun. Sebuah refleksi, hubungan vertikal antara Pencipta dan umatnya serta horizontal, yaitu toleransi dan peduli sesama.
Baca Juga: Tradisi Ngembak Geni dan Maknanya Bagi Umat Hindu
Berikut ini adalah sketsa Nyepi di Bali zaman old, yang bisa menjadi wacana, bila dibandingkan dengan kondisi kekinian, alangkah indahnya perayaan di saat sekarang.
Berita Terkait
-
Ramadan, Imlek hingga Nyepi Bertemu, Ada Festival Lintas Budaya yang Meriah dan Inklusif di Sini
-
Menag Lapor Presiden Takbiran di Bali Tetap Jalan Saat Nyepi, Tanpa Sound System dan Dibatasi Jam
-
Digagalkan Pemilik Rumah, 3 Calon Pencuri Motor di Jagakarsa Babak Belur Diamuk Massa!
-
Toleransi Nyepi dan Lebaran di Bali, Menag Atur Takbiran Terbatas
-
Definisi Sehidup Semaling, Pasangan Ini Tetap Mesra di Kantor Polisi
Terpopuler
- Promo JSM Superindo Minggu Ini, Kue Lebaran dan Biskuit Kaleng Cuma Rp15 Ribuan
- Apakah Ada Penukaran Uang Baru BI Pintar Periode 3? Ini Pengumuman Pastinya
- Daftar Lokasi ATM Pecahan Rp10 Ribu dan Rp20 Ribu di Palembang
- 5 Body Lotion Terbaik untuk Memutihkan Kulit Sebelum Lebaran
- Di Balik Serangan ke Iran: Apa yang Ingin Dicapai AS dan Israel?
Pilihan
-
Sejumlah Artis Mendatangi Rumah Duka Vidi Aldiano, Wartawan Dilarang Masuk
-
Setelah Bertahun-tahun Berjuang, Inilah Riwayat Kanker Ginjal Vidi Aldiano
-
Vidi Aldiano Meninggal Dunia Sabtu 7 Maret Pukul 16.33 WIB
-
Vila di Bali Disulap Jadi Pabrik Narkoba, Bea Cukai-BNN Tangkap Dua WN Rusia dan Sita Lab Rahasia!
-
Shin Tae-yong Gabung FC Bekasi City, Ini Jabatannya
Terkini
-
4 Kontak Penting Posko THR Gianyar Siap Terima Laporan Pekerja
-
Vila di Tengah Sawah Gianyar Jadi Laboratorium Narkoba Mephedrone Bule Rusia
-
Hery Gunardi Paparkan Strategi Perbankan Indonesia Menghadapi Ketidakpastian Ekonomi Global
-
Langkah Cerdas Keluarga Muda: Hindari Drama Mertua dengan Rumah Impian via BRI KPR
-
Iseng Buka Aplikasi Setelah Bayar Tagihan, Keluarga di Bali Malah Dapat Mobil BYD M6