- Sekda Bali Dewa Made Indra mengusulkan ajang lari Bali Tourism Run diselenggarakan berpindah antar destinasi wisata unggulan daerah.
- Kegiatan yang diikuti 1.700 peserta di Jatiluwih ini bertujuan mempromosikan pariwisata Bali menjelang peringatan 100 tahun pada 2027 mendatang.
- Ajang tersebut berhasil memberikan dampak ekonomi sebesar Rp1,5 hingga Rp2 miliar bagi sektor UMKM serta penginapan lokal setempat.
SuaraBali.id - Sekretaris Daerah (Sekda) Bali Dewa Made Indra menginginkan ajang lari di alam terbuka, seperti Bali Tourism Run di Desa Jatiluwih, agar berpindah-pindah lokasi penyelenggaraannya dari satu daerah tujuan wisata (DTW) ke DTW lainnya.
“Ide dari Ketua Asita (Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia), ajang berikutnya (berlokasi di) Besakih, nanti kita bahas lagi. Panduannya sudah diberikan Pak Gubernur Bali yaitu kita harus bergerak dari DTW satu ke DTW yang lain mulai dari DTW unggulan yang merepresentasikan harmoni antara manusia, budaya, dan alam,” kata dia, Minggu (21/6).
Sekda Bali di Tabanan, mengatakan jelang 100 Tahun Pariwisata Bali 2027, penting bagi Pemprov Bali dan industri pariwisata bergerak dari DTW satu ke DTW lain untuk terus mempromosikan beragam daya tarik wisata yang ada. Sebab, Bali memiliki banyak daya tarik wisata namun belum semuanya populer dan masih banyak belum dikenal masyarakat Indonesia dan mancanegara.
“Melalui Bali Tourism Run ini kita perkenalkan kepada wisatawan, baik mancanegara maupun wisatawan domestik, Astungkara ke depan akan menjadi lebih baik,” ucapnya.
Baca Juga:Klinik Kecantikan Ilegal PRIME Skin Clinic Bali Ditutup
Dewa Indra menyampaikan rasa senang lantaran pada ajang lari santai 5 km menjadi pembuka rangkaian 100 Tahun Pariwisata Bali dengan diikuti sebanyak 1.700 orang lebih.
Jatiluwih yang dipilih sebagai lokasi awal sangat tepat karena merupakan simbol Bali yang harmoni antara alam, manusia, dan budaya senada konsep pariwisata berkualitas yang ditawarkan.
Pemprov Bali memandang pemilihan ajang lari untuk mempromosikan pariwisata juga tepat sebab aktifitas sport tourism ini sedang digemari banyak kalangan.
“Kita harus terus kreatif menciptakan event pariwisata baru salah satunya lari karena sedang tren, Jatiluwih adalah poin untuk itu makanya start-nya dari sini, kita ingin mengirim pesan inilah pariwisata Bali, tidak sekadar pariwisata yang mencari keuntungan ekonomi, tetapi juga harus terus menempatkan akar budaya dan lingkungan kita,” tuturnya.
Ketua Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (Asita) Bali I Putu Winastra menambahkan lewat kegiatan pertama mengawali 100 Tahun Pariwisata Bali ini diperkirakan perputaran uang yang terjadi Rp1,5 miliar-Rp2 miliar.
Baca Juga:Warga Bali Ramai-Ramai Serahkan Monyet Ekor Panjang ke BKSDA
Lewat Bali Tourism Run juga terjadi efek ganda pada usaha-usaha sekitar Desa Jatiluwih seperti penginapan dan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) milik warga, sekaligus menunjukkan ke pengunjung bagaimana komitmen menjaga destinasi berpredikat warisan budaya UNESCO.
“Ini komitmen kita menjaga Bali sebagai destinasi kelas dunia yg menjunjung tinggi alam dan budaya berkelanjutan, ini penggerak sektor pariwisata dan ekonomi, kita menarik wisatawan dengan durasi tinggal lebih lama dan pengeluaran lebih tinggi sehingga dampak ekonomi dirasakan luas oleh masyarakat,” tutur Winastra.