- LAM DEPILAR resmi mengadakan Workshop dan Munas I pada 3–4 November 2025 di Universitas Udayana, Denpasar
- Lembaga ini memperoleh legalitas resmi sepanjang tahun 2025, menjadi salah satu dari 11 LAM di Indonesia
- Munas I menghasilkan pengesahan struktur dan pelantikan pengurus masa bakti 2025–2030 untuk akreditasi bidang desain
SuaraBali.id - Lembaga Akreditasi Mandiri Desain Perencanaan Lingkungan Arsitektur (LAM DEPILAR) resmi memasuki babak baru dalam penguatan tata kelola akreditasi pendidikan tinggi di Indonesia.
Melalui Workshop Persiapan dan Musyawarah Nasional (Munas) I yang digelar pada 3–4 November 2025 di Kampus Sudirman Universitas Udayana, Denpasar, lembaga ini menegaskan posisinya sebagai akselerator mutu pendidikan untuk disiplin desain, arsitektur, perencanaan, dan lingkungan.
Kegiatan ini menjadi penanda penting dalam perjalanan LAM DEPILAR sebagai lembaga akreditasi yang berdiri atas visi membangun peradaban melalui ilmu dan karya, berlandaskan ideologi Pancasila dan UUD 1945.
Prinsip kemandirian, keadilan, keterbukaan, kelestarian, dan keberlanjutan menjadi pijakan utama lembaga dalam menjalankan mandatnya.
Baca Juga:Mengungkap Makna Tersembunyi di Balik Setiap Sudut Rumah Tradisional Bali
Momentum Penguatan Kelembagaan
Workshop dan Munas I dibuka oleh Ketua Tim Pelaksana Pendirian LAM DEPILAR, Yulianto Purwono Prihatmaji, dan turut dihadiri Ketua Majelis Akreditasi BAN-PT, Prof Imam Buchori.
Dalam sambutannya, Imam Buchori memberikan ucapan selamat serta menekankan pentingnya peran LAM DEPILAR sebagai bagian dari sistem akreditasi nasional.
“LAM DEPILAR memiliki mandat strategis untuk menjamin dan menjaga kualitas pendidikan pada empat rumpun keilmuan. Ini bukan hanya tugas administratif, tetapi komitmen terhadap masa depan ilmu dan profesi,” ujarnya.
LAM DEPILAR kini menjadi salah satu dari 11 lembaga akreditasi mandiri yang telah resmi beroperasi di Indonesia.
Baca Juga:Fungsi 10 Bagian Pada Rumah Adat Bali yang Perlu Diketahui
Legalitas Resmi Lengkapi Momentum
Pendirian lembaga ini diperkuat melalui sejumlah keputusan resmi pemerintah sepanjang tahun 2025, yaitu:
1. Persetujuan pendirian oleh Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (27 Maret 2025).
2. Pengesahan badan hukum oleh Kementerian Hukum dan HAM (21 Agustus 2025).
3. Penetapan resmi sebagai lembaga akreditasi mandiri (2 Oktober 2025).
Dengan dasar hukum tersebut, LAM DEPILAR kini siap mengembangkan instrumen penilaian mutu yang adaptif dan relevan dengan perkembangan global.
Pembahasan Instrumen Akreditasi hingga Pelantikan Pengurus
Rangkaian Munas I berlangsung dalam dua hari dengan agenda strategis penyusunan dan penyempurnaan instrumen akreditasi.
Penguatan sistem informasi akreditasi. Penyusunan AD/ART dan struktur kelembagaan. Sidang pleno dan pengesahan dokumen resmi dan pelantikan pengurus masa bakti 2025–2030.
Forum ini melibatkan lintas asosiasi program studi dan profesi, termasuk ITB, UGM, IPB, UNDIP, UII, Universitas Petra, UNJ, ITENAS, dan UMN.
Pengurus Masa Bakti 2025–2030 Resmi Dilantik
Dalam Munas I, struktur LAM DEPILAR disahkan dengan susunan organisasi lengkap meliputi Majelis Akreditasi, Dewan Eksekutif, Pengawas, hingga divisi-divisi operasional.
Prof. Nadiroh, ditetapkan sebagai Ketua Majelis Akreditasi, sementara Yulianto Purwono Prihatmaji, memimpin Dewan Eksekutif.
Era Baru Sistem Akreditasi Bidang Desain dan Arsitektur
Dengan dukungan multidisiplin, keterlibatan perguruan tinggi nasional, serta struktur kelembagaan yang telah terbentuk, Munas I LAM DEPILAR menandai langkah konkret menuju sistem akreditasi yang lebih independen dan kredibel.
Adaptif terhadap kebutuhan zaman, mendorong inovasi dan standar global, dan berorientasi keberlanjutan dan tata nilai nasional
LAM DEPILAR menyatakan siap menjadi mitra strategis perguruan tinggi dan profesi untuk meningkatkan kualitas lulusan serta daya saing Indonesia dalam bidang desain, arsitektur, perencanaan, dan ilmu lingkungan.
Dengan dimulainya fase baru ini, LAM DEPILAR optimistis akan menjadi penggerak transformasi pendidikan tinggi dan lahirnya ekosistem akademik yang unggul, berdaya saing, dan berpihak pada keberlanjutan peradaban.