SuaraBali.id - Pada tahun 1942, api Perang Dunia yang berkobar di Eropa akhirnya menjilat cakrawala Asia Pasifik.
Bagi Indonesia, dan khususnya Bali, ini bukanlah sekadar berita dari negeri yang jauh.
Itu adalah pertanda datangnya badai, sebuah peralihan kekuasaan yang diawali dengan kehancuran.
Beberapa bulan sebelum serdadu Kekaisaran Jepang menjejakkan kaki di pasir Bali, tuan kolonial yang lama, Belanda, sudah dilanda kepanikan.
Baca Juga:Fase Purnama, Awas Banjir Rob di Bali
Dalam langkah putus asa yang brutal, mereka menjalankan politik bumi hangus.
Bukan untuk melindungi rakyat, melainkan untuk memastikan musuh yang datang tidak mendapatkan apa-apa.
Bali sengaja dilukai oleh tangan-tangan yang pernah menjajahnya.
Dengan perintah dari atas, infrastruktur vital dihancurkan satu per satu. Pelabuhan yang ramai menjadi puing, gedung-gedung megah sengaja dirobohkan.
Jembatan-jembatan yang menjadi urat nadi kehidupan masyarakat diputus tanpa ampun.
Baca Juga:Mengapa di Bali Tikus Tidak Boleh Dibentak? Ini Cerita dan Mitos di Baliknya
Hal itu tertulis dalam Buku Biografi Drs. I Nyoman Sirna MPH, "Sang Guru, Sebuah Memoar Tentang Perjuangan dan Pengabdian", yang ditulis Indrawati Muninjaya, yang mencatat bagaimana sebuah jembatan panjang yang gagah melintasi Tukad Balian di Surabrata, Tabanan, sengaja diledakkan.
Nasib serupa menimpa jembatan di atas Sungai Yeh Saba, dekat Busung Biu, Buleleng. Belanda pergi, meninggalkan Bali dalam keadaan lumpuh dan terluka.
Lalu, pada 19 Februari 1942, fajar menyingsing di Pantai Sanur bersamaan dengan datangnya kekuatan baru.
Tanpa perlawanan berarti dari Belanda yang sudah tunggang langgang, tentara Jepang mendarat dengan cepat dan efisien.
Bali jatuh dalam sekejap.
Bagi warga Bali, hari itu adalah sebuah pemandangan yang tak akan pernah terlupakan.