Tradisi ngejotin ini sudah dilakukan dalam beragam bentuk di Bali sejak abad 15.
Tidak lain, maksud dari tradisi ngejotin dimaksudkan untuk menjaga kerukunan antar umat beragama di Bali. sementara, LDII mulai melaksanakan tradisi ngejot ini pada tahun 1986 lalu.
LDII juga tidak hanya melakukan tradisi tersebut di Denpasar, melainkan juga di seluruh daerah di Bali.
Olih menyebut pihaknya menyiapkan sekitar 10 ribu paket daging kurban yang siap dibagikan dalam ngejotin.
Baca Juga:Koster Absen di Hari Pertama Retret Kepala Daerah: Prioritaskan Pembukaan PKB Bali
“Jadi intinya agama itu tidak memusnahkan persaudaraan kita, tapi akan memupuk persaudaraan kita. Biar ikhlas berkorban dan ikhlas berbagi,” paparnya.
Salah satu warga yang menerima jotan, Gusti Ayu Anjani (46) mengaku merasa senang menerima daging kurban. Karena sudah menjadi warga sekitar selama bertahun-tahun, kali ini juga bukan pertama kalinya dia menerima daging kurban.
Anjani mengaku berencana akan membagikan daging yang dia dapat ke penghuni kos setelah dimasak menjadi rendang.
“Iya tiap tahun dikasih (daging kurban), makasih banyak,” ucapnya.
“Harapannya ke depan LDII semakin maju dan kita berdampingan rukun selalu,” imbuh Anjani.
Baca Juga:Kisah Hidup Umar Patek, Dulu Terlibat Bom Bali 1 Kini Jualan Kopi
Sementara itu, Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Bali, Ida Panglingsir Agung Putra Sukahet yang juga hadir pada kegiatan tersebut mengapresiasi tradisi yang terus diturunkan ini.
Sejalan dengan Olih, dia menyebut tradisi ngejotin daging kurban adalah upaya untuk menjaga semangat menyama braya antar umat beragama di Bali.
“Semangat ini yg harus kita kobarkan terus, menyama braya di Bali, ukhuwah itu menyama braya itu. Dari semangat perayaan hari raya ini, kita akan terus kobarkan itu,” ujarnya.
Kontributor : Putu Yonata Udawananda