Bukan hanya antarumat Muslim, melainkan juga antaragama dan lintas budaya.
"Selain itu, Lebaran Ketupat sebagai upaya menjaga tradisi leluhur, karena dalam perayaannya sarat dengan kegiatan religi," katanya.
Selain itu perayaan Lebaran Ketupat dirangkaikan dengan kegiatan ziarah makam para ulama, selakaran, zikir, "ngurisan" (cukur rambut bayi) dan doa kepada Allah SWT.
Rangkaian terakhir "Lebaran Topat" adalah "begibung" atau makan bersama tokoh agama, tokoh masyarakat, dan masyarakat umum lainnya yang hadir sebagai bentuk mempererat silaturahim.
Baca Juga:Mudik dari Bali Sempat Terjebak Macet Tapi Komunikasi Lancar Bebas Hambatan
"Apa yang sudah ulama dan leluhur warisi, kita tanamkan dan ikuti termasuk menjaga ikatan silaturahim dan nilai-nilai syariat Agama Islam," katanya.
Namun demikian, masyarakat diimabu agar tidak berlebihan saat merayakan Lebaran Ketupat untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.
"Mari kita laksanakan perayaan bulan Syawal dengan tradisi Lebaran Ketupat dengan penuh tanggung jawab bersama keluarga dan tidak merugikan orang lain," katanya.
Kawasan pantai menjadi titik paling ramai pengunjung saat perayaan Lebaran Ketupat di Kota Mataram, seperti di Pantai Gading, Mapak Indah, Loang Baloq, Tanjung Karang, Pantai Ampenan, Pantai Pura Segare, Bintaro, hingga ke Pantai Meninting.
Baca Juga:Kronologi Warga Terkena Ledakan Petasan 8 Kilogram, Diotak-atik Langsung Terpental