Manipulasi Maut Agus Buntung: Psikolog Ungkap Taktik Tersangka Pelecehan Seksual NTB

Tersangka disabilitas Agus Buntung diduga lakukan kekerasan seksual lewat manipulasi emosi. Psikolog sebut rasa kasihan perlu dikaji karena Agus mampu beraktivitas normal.

Eviera Paramita Sandi
Senin, 09 Desember 2024 | 18:12 WIB
Manipulasi Maut Agus Buntung: Psikolog Ungkap Taktik Tersangka Pelecehan Seksual NTB
Hasil bidikan layar Agus Buntung tersangka kasus pemerkosaan terhadap mahasiswi di NTB. (tangkapan layar/Youtube)

SuaraBali.id - Dugaan kekerasan seksual yang dilakukan seorang penyandang disabilitas I Wayan Agus Suartama alias Agus Buntung (21) masih terus berproses di Polda NTB. Banyak masyarakat yang merasa kasihan terhadap Agus yang tanpa kedua tangan jadi tersangka.

Seorang Psikolog asal Lombok, Fitriani Hidayah pun menyebut bahwa rasa kasihan yang dimaksud perlu dikaji lagi.

Mengamati dugaan tindakan yang dilakukan Agus Buntung, menurut Fitri, dari obrolan yang dilakukan oleh Agus adalah bagian dari manipulasi emosi untuk mempengaruhi korban sehingga mau bercerita tentang masalah yang dihadapi secara terbuka.

"Ketika korban menolak tapi korban mengatakan lagi kata-kata kalau kamu terikat dengan saya dan saya akan melaporkan kamu ke keluarga dan korban merasakan tekanan. Proses itu antara korban dan pelaku dalam psikologi itu namanya pelaku sedang mengumpan manipulasi emosi si korban," katanya Senin (9/12) sore.

Baca Juga:Polda NTB Buru Korban Lain Agus Disabilitas, Sediakan Posko Pengaduan

Manipulasi emosi adalah upaya seseorang untuk mempengaruhi seseorang mengunakan permainan pikiran dan emosi. Hal ini akan berdampak pada emosi pada tubuhnya.

"Jadi sebenarnya manipulasi emosi ini bisa dilakukan oleh siapapun yang penting dia berpengalaman di bidang itu. Walaupun dia tidak belajar tentang psikologi, manipulasi emosi tapi dia sudah punya pola tersendiri dan sering melakukan itu dan ada korban-korban yang berhasil ketika melakukan manipulasi emosi dan dia akan terlatih untuk memanipulasi orang yang lebih mahir lagi sehingga terjadi pelecehan seksual tersebut," ungkapnya.

Ada beberapa kelompok orang yang mudah kena manipulasi emosi. Misalnya orang yang tidak memiliki riwayat pola asuh yang tidak baik. Artinya tidak dianggap di dalam keluarga sehingga tidak percaya sendiri.

"Yang rentan lainnya juga adalah memiliki riwayat kekerasan seksual sebelumnya. Jadi mungkin ada beberapa korban kemarin yang mengalami masa lalu yang kurang baik. Apa pernah mengalami kekerasan seksual sebelumnya," katanya.

Korban yang tidak menceritakan kekerasan seksual yang terjadi pada dirinya karena takut menjadi aib di lingkungannya akan memendam masalahnya sendiri dan menjadi trauma.

Baca Juga:Modus Pelecehan Seksual yang Diduga Dilakukan Agus Disabilitas Terekam Dalam Video

"Pendidikan seksual yang tidak memadai atau rendah. Jadi kalau kita mau mempertahankan diri kita maka kita harus punya edukasi tentang itu. Sementara di Lombok itu menurut saya dari segi observasi saya pendidikan seksual masih kurang, pendidikan psikologi masih kurang sehingga perempuan di Lombok menjadi rentan untuk manipulasi emosinya," katanya.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini

Tampilkan lebih banyak