“Akan sangat mahal untuk memproduksi BSF dan produk turunan akhirnya. Tapi kalau kita buat dalam skala besar, pasti biayanya akan turun, dari sisi bisnis itu akan menguntungkan,” tuturnya.
Sejalan dengan yang telah dilakukan Magi Farm, Arya juga menilai jika salah satu cara untuk mengembangkan BSF di Bali adalah melalui sektor pariwisata di Bali.
Dengan melakukan hal itu, perlahan dia menilai dapat semakin memperluas pengetahuan masyarakat tentang pengolahan sampah dengan Maggot BSF.
“Kalau seandainya industri BSF punya skala yang cukup dan bisa menyadarkan pemain-pemain di industri perhotelan dan lainnya bisa skalanya semakin besar, bisnisnya lebih efisien dan kompetitif,” imbuhnya.
Baca Juga:Bali United Kembali Imbang Dengan PSS Sleman, Ini Alasan Teco
Misi itu juga yang terus digencarkan oleh Soma dan Ima. Melalui media sosial Magi Farm, mereka berupaya memperluas pengetahuan terhadap pengolahan sampah selain hanya menawarkan jasa mereka.
Menurut mereka masih banyak pola pikir yang perlu dibenahi mengenai penglolaan sampah. Mulai dari pemikiran masyarakat jika pemilahan sampah merupakan tugas dari petugas kebersihan, hingga keengganan untuk mengeluarkan biaya untuk menggunakan jasa pengolahan sampah. Termasuk juga dengan peran pemerintah untuk membantu masyarakat agar dapat membantu masyarakat mengolah sampahnya.
“Kita mencoba membawa isu sampah itu lebih menyenangkan, bukan yang serius dan membuat orang khawatir dan mengancam,” tandas Soma.
“Sampah itu masalah semua orang, memang harus ada biayanya mengolah sampah. Kalau nggak dari masyarakat, mungkin dari pemerintah yang subsidi,” tutup Ima.
Kontributor : Putu Yonata Udawananda
Baca Juga:Pasutri Asal Thailand Hendak Selundupkan Ekstasi 1,5 kilogram ke Bali