Muhammad Yunus
Sabtu, 16 Mei 2026 | 12:18 WIB
Nurhayati menunggu pembeli di lapaknya di sekitar TPS Sandubaya [Suara.com/Buniamin]
Baca 10 detik
  • Ketergantungan Kota Mataram terhadap TPA Regional Kebon Kongok menyebabkan penumpukan sampah di TPS Sandubaya akibat pembatasan pengiriman.
  • Penumpukan sekitar 10 ribu ton sampah di TPS Sandubaya menimbulkan bau menyengat yang mengganggu aktivitas masyarakat sekitar.
  • Dampak lingkungan tersebut menyebabkan omzet pedagang lokal menurun drastis dan mengurangi aktivitas ekonomi di kawasan TPS Sandubaya.

“Dulu sampai di sini sampah itu dibuang,” katanya sambil menunjuk area di sekitar lapaknya.

Meski saat ini volume sampah baru mulai berkurang karena langsung diangkut menuju TPA Regional Kebon Kongok, tumpukan sampah lama masih terlihat di beberapa titik TPS.

“Sudah mulai gotong royong ini. Tapi sampai sekarang masih numpuk di sebelah timur,” tutur Nurhayati.

Ia mengakui, berkurangnya volume sampah sedikit mengurangi bau menyengat, terutama saat hujan turun. Namun kondisi tersebut belum mampu memulihkan aktivitas ekonomi di kawasan TPS.

Nurhayati mengungkapkan, sebelum terjadi penumpukan sampah, penghasilannya bisa mencapai Rp300 ribu hingga Rp400 ribu per hari.

Kini omzetnya turun hingga 50 persen dan hanya berkisar Rp150 ribu sampai Rp200 ribu per hari.

“Sekarang sudah sepi,” katanya.

Di tengah kondisi tersebut, Nurhayati tetap bertahan berjualan meski harus membayar biaya sewa lahan sebesar Rp500 ribu setiap tahun.

“Dulu banyak lapak di sini. Tapi sudah banyak yang tutup dan saya saja yang masih bertahan,” ujarnya.

Baca Juga: Stop 'Open Dumping'! Menteri LH Ancam Pidana Penjara hingga 15 Tahun bagi Pemda Bandel

Sementara itu, aktivitas pemulung di TPS Sandubaya juga mulai berkurang.

Berdasarkan pantauan di lokasi, sampah rumah tangga kini langsung dimasukkan ke dump truck untuk dibawa ke TPA Regional Kebon Kongok sehingga tidak lagi banyak sampah yang bisa dipilah oleh pemulung.

Seorang warga yang enggan disebutkan namanya mengatakan, kondisi tersebut membuat penghasilan para pemulung ikut menurun.

“Masih ada pemulung di sini tapi sekarang sudah mulai sepi. Tidak ada sampah yang akan dipilih karena semua langsung dibuang ke dump truck,” pungkasnya.

Kontributor: Buniamin

Load More