- Pelopor kuliner legendaris Nasi Jinggo asal Bali, Ni Ketut Ngasti, meninggal dunia pada usia 90 tahun.
- Nama Nasi Jinggo berasal dari julukan anak mendiang yang terinspirasi film koboi pada era tahun 1960-an.
- Men Jenggo mulai merintis usaha nasi campur di kawasan Pelabuhan Benoa sejak tahun 1970-an hingga dikenal luas.
SuaraBali.id - Bali baru saja kehilangan salah satu tokoh kuliner paling berpengaruh. Ni Ketut Ngasti yang diingat sebagai pelopor kuliner legendaris khas Bali, Nasi Jinggo, berpulang di usia 90 tahun.
Sosok yang juga dikenal sebagai Odah Jenggo atau Men Jenggo berpulang pada Sabtu (9/5/2026) lalu. Proses kremasi baru dilakukan pada Selasa (12/5/2026) di Krematorium Santha Yana, Denpasar.
Anak tertua dari Men Jenggo, Henry Alexie Bloem menceritakan kenangannya bersama sang ibu yang juga berkaitan dengan asal muasal nama Nasi Jinggo.
Dia bercerita jika kata Jinggo itu merupakan panggilan Henry semasa kecil. Nama itu diberikan karena ayahnya karena gemar menonton film bertema koboi pada tahun 1960-an.
Henry yang juga merupakan Mantan Presiden Indonesian Chef Association (ICA) itu lantas dikenal dengan nama panggilan Djenggo di kalangan keluarga dan teman-temannya.
“Nama jinggo itu saya. Di Sesetan semua teman-teman, saudara-saudar manggil saya Djenggo. Ceritanya karena papa saya seneng nonton koboy tahun 1966,” tutur Henry saat ditemui sebelum prosesi kremasi.
“Saking senangnya nonton itu, saya kalau di-ninabobo-kan (dengan) djenggo-djenggo,” sambungnya.
Nama tersebut berlanjut ketika Men Djenggo berjualan nasi campur pada tahun 1970-an di sekitar Pelabuhan Benoa.
Kala berjualan, Ngasti sudah dikenal dengan panggilan Men Djenggo karena kebiasaan orang Bali yang memanggil nama orang tua dengan nama anaknya.
Baca Juga: Mengapa Perjalanan 20 Hari Para Biksu Ini Jadi Sorotan Dunia?
Henry menuturkan kalau Men Djenggo berjualan nasi campur dengan tiga pilihan lauk yang berbeda, yakni dengan daging ayam, sapi, dan babi.
Saat itu, dia bisa berjualan hingga ratusan bungkus nasi campur dalam sehari.
Hal itu berlanjut selama sekitar 10 tahun hingga Men Djenggo tenar dengan hidangan yang hingga kini masih disebut Nasi Jinggo itu.
Men Djenggo berhenti berjualan pada tahun 1982 untuk menekuni kegiatannya sebagai Pemangku.
Kini, nasi jinggo selalu dilengkapi dengan lauk yang sama seperti ayam suwir, kacang, serundeng kelapa, telur, dan sambal, serta dibungkus dengan daun pisang.
Selain melegenda, kuliner Nasi Jinggo juga akrab dengan harganya yang terjangkau dan mudah ditemui di pinggir jalan di Bali.
Berita Terkait
Terpopuler
- Feng Shui Warna Cat Rumah Pembawa Keberuntungan Berdasarkan Shio
- 4 Sepatu Lari Skechers yang Empuk untuk Jogging hingga Long Run Sesuai Review Pembeli
- Pemain Timnas Terlibat? 3 Kejanggalan Dugaan Pengaturan Skor Piala AFF 2026
- 4 Shio yang Diprediksi Nasibnya Makin Baik pada 15 Agustus 2026, Siapa Saja?
- 5 Rice Cooker Murah untuk Keluarga Kecil, Hemat Listrik dan Awet
Pilihan
-
Gempa 6,4M Guncang Sumatera Utara sampai Sumbar
-
Masih Banyak Warga NTT Terjebak di Bawah Reruntuhan Bangunan, 2000 Orang Mengungsi
-
Info Terbaru Gempa NTT: 15 Warga Manggarai Tewas, 280 Bangunan Jadi Puing
-
5 Bandara Rusak Diguncang Gempa NTT, Landasan Pacu Sampai Retak
-
Pesona Masjid Pancasila Kediri: Sederhana di Luar, Bikin Pangling di Dalam
Terkini
-
Imbas Gempa NTT, Dua Lokasi Wisata di Manggarai Ditutup
-
Terjadi Gempa Bumi Flores, BRI Salurkan Bantuan Bagi Warga Terdampak
-
Tim SAR dan K-9 Dikerahkan Bantu Pencarian Korban Gempa NTT
-
Pemprov NTT Tetapkan Status Tanggap Darurat Gempa Selama 14 Hari
-
NTB Pakai Cadangan Pangan Bantu Korban Gempa di NTT