- Warga Bali memprotes aktivitas pembakaran sampah yang dilakukan malam hari karena asapnya mengganggu kenyamanan serta waktu istirahat warga.
- Paparan asap pembakaran sampah mengandung bahan kimia berbahaya yang memicu gangguan pernapasan, penyakit paru-paru, hingga risiko kanker serius.
- Residu logam beracun dari pembakaran sampah dapat mencemari lingkungan serta memicu gangguan kesehatan jangka panjang termasuk kerusakan otak.
SuaraBali.id - Asap pembakaran sampah di Bali beberapa hari belakangan ini menjadi sorotan. Banyak warga Bali yang protes dan mengunggahnya ke sosial media karena merasa terganggu.
Bahkan, beberapa warga mengaku jika aktivitas pembakaran sampah tersebut ada yang dilakukan di jam 02.00 WITA, sehingga menggangu istirahat.
Warga mengeluh karena asapnya masuk ke dalam rumah, dan memenuhi seisi rumah sehingga mengganggu istirahat.
Tak hanya menimbulkan bau menyengat, asap yang dihasilkan dari pembakaran sampah ini juga dapat berpotensi berdampak pada Kesehatan.
Sekilas, membakar sampah dianggap sebagai jalan pintas untuk melenyapkan tumpukan sampah yang menjadi sarang penyakit.
Namun, menyingkirkan tumpukan sampah dengan cara membakar ini justru memunculkan masalah baru untuk Kesehatan.
Berikut bahaya membakar sampah untuk Kesehatan jangka Panjang:
1. Gejala Batuk dan Sesak Napas
Asap pembakaran sampah mengandung materi tidak kasatmata, seperti hydrogen klorida, hydrogen sianida, benzene, stiren, arsen, timbal, kromium, dioksin, furan dan benzo(a)pirena.
Baca Juga: Warga Bali Bakar Sampah Terancam Pidana, Bagaimana Cara Olah Sampah yang Benar?
Semua bahan kimia tersebut bukan untuk dihirup manusia karena berbahaya.
Padahal, bahan kimia dari asap pembakaran sampah tersebut biasanya langsung terhirup oleh manusia.
Jika bahan – bahan kimia berbahaya terus dihirup oleh manusia, hal ini dapat menimbulkan gejala batuk, sesak napas, infeksi mata, sakit kepala dan pusing.
2. Penyakit Paru dan Kanker
Menurut U.S. Environmental Protection Agency, karbon monoksida dan formaldehida (formalin) adalah dua zat utama hasil pembakaran yang paling banyak memicu penyakit pernapasan.
Seorang peneliti dari National Center of Atmospheric Research, Cristine Wiedinmyer, menemukan bahwa sebanyak 29% asap hasil pembakaran mengandung partikel logam berat.
Berita Terkait
Terpopuler
- LHKPN Tembus Rp7,2 Miliar, Kendaraan Plt Jampidsus Rudi Margono Cuma Motor Honda Seharga Rp5 Juta
- 4 Shio yang Menarik Keberuntungan 12 Juli 2026, Masa Sulit Diprediksi Berakhir
- 5 Sepatu Kanky Warna Putih Mulai Rp160 Ribuan, Nyaman dan Stylish
- 5 Pilihan Motor Anti Low Back Pain, Cocok Buat Touring di Akhir Pekan
- Tan Kian Orang Terkaya ke Berapa di Indonesia?
Pilihan
-
Kejagung Akhirnya Buka Suara Soal Temuan 74 Kg Emas di Rumah Febrie Adriansyah: Kami Tak Tahu
-
Ada Ancaman Teror Bom, Seluruh Siswa dan Guru SDN 15 Srengseh Sawah Dipulangkan
-
Hari Pertama Sekolah Mencekam! SDN Srengseng Sawah 15 Diteror Bom, Gegana dan Densus 88 Turun Tangan
-
Iran Luncurkan Serangan Balasan ke Amerika, Serbuan Drone Meluncur
-
Garda Revolusi Iran Tutup Lagi Selat Hormuz Sampai Batas Waktu Tak Ditentukan
Terkini
-
Pertama Kali Berangkat dari Stasiun Gambir? Ini 7 Hal yang Sering Buat Bingung dan Jawabannya
-
Implementasikan POJK Baru, BRI Perbarui Klasifikasi Status Rekening Nasabah
-
5 Pesan Presiden Prabowo untuk Warga NTB
-
Tuan Guru Jadi Tersangka Kasus Pembakaran Santri, Rieke: Jangan Berhenti di Penjara
-
Apa Itu Pembangkit Listrik Tenaga Arus Laut? Siap Dibangun di Nusa Penida Bali