- Sabri Rasyid, mantan pegawai Telkom, kini Senior Advisor Pos Indonesia, mendefinisikan perannya sebagai "avatar" pengendali isu krusial.
- Di Denpasar, Kamis (5/2/2026), Sabri menekankan profesi komunikasi sangat bertekanan meski minim apresiasi publik.
- Ahmad Reza dari Telkom menyoroti pentingnya verifikasi media konvensional di tengah derasnya arus informasi era kecerdasan buatan (AI).
SuaraBali.id - Dalam ruang sunyi yang penuh tekanan, ada seseorang yang harus tetap tenang saat publik mulai gaduh.
Ia bukanlah pahlawan dengan jubah, melainkan sosok "Avatar" yang mengendalikan arus informasi agar tidak meluap menjadi bencana.
Di Denpasar, Kamis (5/2/2026), Sabri Rasyid menceritakan bagaimana rasanya berdiri di garis tipis antara kebenaran dan persepsi, sebuah dunia di mana satu kata bisa memadamkan api, namun satu kesalahan bisa membakar seluruh reputasi.
Sabri, yang baru saja resmi pensiun dari Telkom per 1 Januari dan kini mengemban amanah sebagai Senior Advisor Pos Indonesia, memiliki cara unik mendefinisikan profesinya.
"Pekerjaan utama avatar pengendali isu peran saya itu. Lalu side job membesarkan yang kecil dan mengecilkan yang besar," ujar pria murah senyum ini.
Baginya, menjadi praktisi komunikasi adalah soal intuisi; tahu kapan harus bersuara lantang dan kapan harus memilih diam dalam senyap.
Meski terlihat keren di mata awam, Sabri mengakui profesi ini penuh tekanan (under pressure). Tak ada tepuk tangan saat krisis berhasil diredam.
"Hanya oke, begitu saja," ucapnya pelan, menggambarkan betapa sunyinya apresiasi bagi mereka yang bekerja di balik layar. Baginya, menulis adalah pelarian sekaligus kekuatan.
"Hardskill saya orang teknik saya suka nulis kalau saya stres apalagi orang corcom harus bisa menulis," tambahnya.
Baca Juga: Begini Strategi Telkom Hadapi Disrupsi Teknologi dan AI
Tantangan ini juga kian nyata di mata Ahmad Reza, SVP Group Sustainability & Corcom Telkom. Di era AI, di mana 85 persen orang membaca berita lewat ponsel, arus informasi tak lagi terbendung.
Reza merasa cemas dengan fenomena viral yang kerap mengabaikan etika. Di sinilah ia merasa peran media konvensional menjadi penyelamat.
"Kami tetap butuh media dan fungsi verifikasi ada di media," tegas Reza. Dengan 200 juta lebih pengguna Telkomsel, menjaga persepsi positif bukan sekadar soal data, tapi soal masa depan bisnis yang berkelanjutan. Di akhir diskusi, ia menitipkan harapan besar pada integritas jurnalisme.
"Kami berharap besar pada media dan pilar bagi kami bagaimana caranya mengajak media yang benar," pungkasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Catat Tanggalnya! Ribuan Warga Badui Bakal Turun Gunung Temui Gubernur Banten Bulan April
- 5 Rekomendasi Smartwatch yang Bisa Balas WhatsApp, Mulai Rp400 Ribuan
- 7 Sepatu Lari Tahan Air Selevel Nike Vomero 18 GTX, Kualitas Top
- Donald Trump: Pangeran MBS Kini Mencium Pantat Saya
- Dua 'Pesawat Super' Milik AS Hancur, Kekuatan Militer Iran Kejutkan Dunia
Pilihan
-
Petir Bikin Duel Kepulauan Solomon vs Saint Kitts and Nevis di Stadion GBK Ditunda
-
Melihat 3 Pemain yang Bakal Jadi Senjata Utama Timnas Indonesia Hadapi Bulgaria
-
Profil Sertu Farizal Rhomadhon, Prajurit TNI asal Kulon Progo yang Gugur di Lebanon
-
1 Prajurit TNI di Lebanon Gugur Dibom Israel, 3 Lainnya Luka-luka
-
Mengamuk! Timnas Indonesia Hantam Saint Kitts dan Nevis Empat Gol
Terkini
-
Program Desa BRILiaN Berhasil Mengangkat Potensi Desa Sumowono
-
Kasus Mutilasi Bali: Lokasi Sementara 6 Buronan Terungkap
-
Lebaran Topat di Lombok: Ziarah, Rebutan Ketupat, hingga Pedagang Dadakan Banjir Rezeki
-
Gubernur Bali Minta Warga Ganti Nasi dengan Singkong, Mbok Niluh Balas dengan Ini
-
Tips Masuk Sekolah Favorit Sesuai Minat dan Kemampuan