- Sejarah Kuta yang tak banyak diketahui
- Saat Majapahit mendarat, Kuta hanya hutan rimba
- Dulu jadi kawasan bebas bagi turis, kini tak sebebas dulu
SuaraBali.id - Siapa yang tak kenal wilayah Kuta, Bali. Kawasan yang dikenal sebagai jantung pariwisata Pulau Bali ini selalu jadi rujukan banyak wisatawan.
Kuta adalah sebuah kecamatan yang memiliki luas 17,5 km2 yang saat ini mempunyai banyak pantai wisata favorit bahkan terkenal di dunia.
Namun tak banyak yang tahu bahwa dulunya Kuta adalah tempat pertama mendaratnya pasukan bala tantara kerajaan Majapahit pada tahun 1334.
Dahulu kala Kuta dikenal dengan nama Benteng.
Hal ini sesuai prasasti yang tersimpan di Pura Sanggaran, tidak jauh dari kawasan Kuta.
Saat Majapahit mendarat, Kuta hanyalah hutan rimba.
Namun lokasinya yang strategis menjadikan Kuta mendapat tempat di hati para pedagang dari berbagai daerah di Nusantara dan luar negeri yang singgah dalam pelayaran mengarungi samudera.
Sebelum terkenal seperti sekarang, Kuta dulu sering dijadikan tempat persembunyian bagi perampok dan bajak laut, bahkan sebagai pusat penyelundupan candu ke Jawa sekitar 1826.
JS Wettters, seorang tentara Belanda berpangkat kapten akhirnya ditempatkan sebagai pengawas keamanan pantai di Kuta.
Baca Juga: Ramai Beredar ASN di Bali Diminta Donasi Banjir dari Rp 150 Ribu Sampai Rp 1 Juta
Selain itu, juga tercatat seorang pedagang asal Banyuwangi, Jatim, bernama Jembrong, pada awal Agustus 1835, mulai menetap di Kuta.
Tanggal 1 Agustus 1839 didirikannya ’Nederlandche Handel Maatsschappiy-NHM’ sebagai perusahaan dagang Belanda pertama di Bali yang sempat eksis selama empat tahun (1843).
Setelah itu pada April 1927, menetap lagi Pierre Dubois, Wakil Pemerintah Hindia Belanda karena Kuta sangat strategis sebagai pintu keluar-masuk barang terutama dari Singapura.
Pada 1835 sudah ada sekitar 40-an perahu yang menyemarakkan pelabuhan Cautaen (Kuta).
Perahu-perahu dari Singapura itu bersandar di Pelabuhan Kuta dengan membawa mata dagangan berupa besi, kain dan kebutuhan lainnya buatan Cina.
Pemerintah Hindia Belanda dan para raja yang berkuasa di Badung, Bali, akhirnya menetapakan Kuta sebagai sebuah pelabuhan defenitif guna mendukung arus bongkar muat kapal-kapal asing dari Eropa maupun Asia Pasifik.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 Mobil Bekas Honda yang Awet, Jarang Rewel, Cocok untuk Jangka Panjang
- Dua Tahun Sepi Pengunjung, Pedagang Kuliner Pilih Hengkang dari Pasar Sentul
- 5 Mobil Diesel Bekas 7-Seater yang Nyaman dan Aman buat Jangka Panjang
- Senyaman Nmax Senilai BeAT dan Mio? Segini Harga Suzuki Burgman 125 Bekas
- 4 Mobil Bekas 50 Jutaan dari Suzuki, Ideal untuk Harian karena Fungsional
Pilihan
-
Rumus Keliling Lingkaran Lengkap dengan 3 Contoh Soal Praktis
-
Mulai Tahun Ini Warga RI Mulai Frustasi Hadapi Kondisi Ekonomi, Mengapa Itu Bisa Terjadi?
-
CORE Indonesia Soroti Harga Beras Mahal di Tengah Produksi Padi Meningkat
-
Karpet Merah Thomas Djiwandono: Antara Keponakan Prabowo dan Independensi BI
-
Dekati Rp17.000, Rupiah Tembus Rekor Terburuk 2026 dalam Satu Bulan Pertama
Terkini
-
5 Fakta Terbaru Penanganan Kejahatan Turis Asing di Pulau Dewata
-
Kunci Jawaban Bahasa Indonesia Kelas IX Halaman 110 Kurikulum Merdeka: Hati-Hati Tukang Tipu!
-
Kunci Jawaban Bahasa Indonesia Kelas VII Halaman 98 Kurikulum Merdeka: Membuat Sorbet Buah
-
Kunci Jawaban Informatika Kelas X Halaman 22 Kurikulum Merdeka : Data, Informasi dan Validasi
-
Jadi Idola Gen Z, Ini Kelebihan Macbook Dibanding Laptop Lain