SuaraBali.id - Gubernur Bali, Wayan Koster menyebut bahwa pikirannya lebih mau daripada Badan Pusat Statistik (BPS).
Hal ini dikatakan Wayan Koster saat meminta Badan Pusat Statistik (BPS) melakukan sensus kebudayaan dan hayati di Bali.
Koster mengharap agar dapat mendata keunikan dari segi budaya dan hayati di Bali.
Untuk itu Gubernur asal Desa Sembiran, Buleleng ini meminta agar agar kebudayaan di Bali yang berbasis desa adat dapat disensus oleh BPS.
Sehingga, ragam budaya seperti adat istiadat, seni budaya, dan kearifan lokal di Bali dapat tercatat dengan baik.
Dia menyebut ada total sekitar 1.500 desa adat yang dapat disensus untuk hal tersebut.
Menurut Pemprov Bali, desa adat adalah lembaga penjaga kelestarian kebudayaan Bali, sehingga keragamannya bahkan hingga sejarahnya perlu diketahui melalui sensus.
“Bali katanya pulau budaya dan budayanya begitu kaya dan unggul tapi kalau dikuantifikasi berapa banyak sih, apa saja ragamnya, seberapa besar di Bali ini, tahun 2026 (APBD) induk sudah dilakukan sensus supaya kita bisa melihat wah begini budaya Bali ternyata,“ kata Gubernur Koster.
Hal itu juga didorong oleh Koster karena kebudayaan menjadi kekayaan yang dimiliki di Bali.
Baca Juga: Di Balik Nama Serombotan, Kuliner Khas Bali Hidangan Para Raja yang Kini Dijual Rp 5 Ribuan
Pasalnya, Bali tidak memiliki kekayaan Sumber Daya Alam seperti yang dimiliki daerah lain, sehingga dia mengharapkan bisa memaksimalkan kekayaan budaya yang dimiliki Bali.
“Meskipun tanpa angka, saya berani memastikan, kekayaan budaya Bali ini, keragaman budaya Bali ini, keunikan dan keunggulannya nggak ada yang ngalahin di dunia,” ujar Koster dalam pidatonya pada pengukuhan Kepala BPS Bali di Gedung Wiswa Sabha Utama, Denpasar, Kamis (17/4/2025).
Selain itu, Koster juga menginginkan agar BPS melakukan sensus terhadap keanekaragaman hayati yang ada di Bali.
Ragam jenis endemik flora dan fauna diinginkannya untuk disensus dan dipetakan secara akurat sesuai dengan daerahnya di Bali.
Dia juga menginginkan agar BPS menyediakan aplikasi yang kemudian memasukkan hasil endemik flora fauna Bali dengan pemetaan yang akurat.
Sehingga, publik dapat mengetahui kekayaan alam dan budaya yang dimiliki Bali.
Berita Terkait
Terpopuler
- Maarten Paes Mulai Kehilangan Tempat di Ajax, Petinggi PSSI Pasang Badan
- Jalan Kolmas Ditutup Total 67 Hari, Polres Cimahi Siapkan Dua Jalur Alternatif
- 4 HP Xiaomi RAM 8 GB Snapdragon Paling Murah untuk Berbagai Kebutuhan
- 3 Rekomendasi HP vivo RAM 8 GB Snapdragon Paling Murah untuk Dipilih
- KBRI Kuala Lumpur Digeruduk, Warga Malaysia Desak Prabowo Buka Nama Perusahaan Terlibat Karhutla
Pilihan
-
Kedutaan Besar Negara Asing Keluarkan Peringatan untuk Warganya Pasca Erupsi Anak Krakatau
-
Kabut Asap Makin Pekat, Doa Apa yang Bisa Dibaca Muslim? Ini Bacaan Perlindungannya
-
Jakarta Terdampak Abu Vulkanik Anak Krakatau, Pemprov DKI Terapkan PJJ Mulai Besok
-
Badan Geologi Ungkap Kondisi Anak Krakatau Terkini: Tak Ada Potensi Runtuh Picu Tsunami
-
Terungkap! Sebelum Audiensi dengan Pimpinan DPR, Botok Ditelpon Prabowo
Terkini
-
Gubernur Koster Tegas: Jangan Biarkan AI Hapus Kecerdasan Budaya Bali
-
Tiba di Lombok, Putri Mahkota Swedia Langsung Disuguhi Minuman Racikan 11 Rempah
-
Penyebab Antrean Belasan Kilometer di Pelabuhan Ketapang Terungkap
-
Spesial bagi Nasabah, BRI Hadirkan Promo Menarik di Hari Pelanggan Nasional 2026
-
Air PDAM Mati Saat Kebakaran Pura di Klungkung, Warga Lakukan Aksi Dramatis Padamkan Api