SuaraBali.id -
Warga Pulau Lombok dan para wisatawan tumpah ruah di areal Pantai Seger, Desa Kuta Mandalika pada Minggu malam (20/2/2022).
Hal tersebut dilakukan dalam rangka mengikuti tradisi adat yang digelar satu tahun sekali yakni Bau Nyale atau menangkap cacing laut.
Cacing laut atau nyale ini oleh masyarakat Suku Sasak diyakini merupakan jelmaan perempuan cantik jelita asal Suku Sasak, Putri Mandalika. Berdasar folklor masyarakat Sasak, Putri Mandalika merupakan keturunan salah satu raja Sasak.
Karena kecantikannya, pangeran dan ksatria dari berbagai penjuru di Lombok ingin meminangnya. Dalam suatu waktu, karena tak ingin menyakiti salah seorang pangeran, Putri Mandalika memilih mengakhiri hidupnya.
Dari sebuah bukit yang diyakini adalah bukit Seger, Putri Mandalika menceburkan dirinya ke laut. Tak lama setelah itu, muncul cacing laut yang kemudian disebut sebagai nyale oleh masyarakat Sasak.
Hingga kini, nyale masih muncul sekali setahun. Penentuan waktu kemunculan nyale tersebut dilakukan melalui serangkaian acara adat, termasuk sangkep warige (musyawarah adat) para tetua Suku Sasak.
Berdasarkan pantauan pada Minggu malam (20/2/2022), ribuan warga telah memadati areal Pantai Seger, Kuta Mandalika.
Tetapi keramaian itu terganggu. Sebab sejak pukul 00.30 WITA, hujan deras disertai angin kencang mengguyur kawasan Pantai Seger. Pesisir Pantai Seger yang sebelumnya dipadati tenda warga tampai mulai dibuka.
Warga memilih meninggalkan tenda dan mencari bangunan yang teduh dah kokoh diterjang angin.
Baca Juga: Presean, Tradisi Khas Masyarakat Lombok Untuk Adu Ketangkasan Antar Ksatria Suku Sasak
Hingga menjelang pukul 03.00 WITA saat kemunculan nyale, hujan dan angin kencang masih terjadi.
Berdasarkan pantauan pada Senin dini hari, (21/2/2022) warga akhirnya memilih tetap turun ke laut meskipun hujan. Hal ini dilakukan demi menangkap nyale disebut jelmaan Putri Mandalika.
"Iya mau ndak mau walaupun hujan kita tetap turun. Ini sekali setahun, kalau kita tidak turun kita harus menunggu setahun lagi," kata Lalu Peni Ahmad Pradinata saat ditemui di lokasi bau nyale, Senin (21/2/2022).
Selanjutnya, kata Peni, menangkap nyale merupakan salah satu bentuk rasa hormat kita terhadap nenek moyang Suku Sasak, salah satunya Putri Mandalika.
"Ini cara kita menghormati. Putri Mandalika telah berkorban dan memberi banyak pembelajaran bagi masyarakat Suku Sasak," ujarnya.
Peni mangaku cukup banyak nyale yang keluar. Hal itulah yang membuat ia merasa senang.
Berita Terkait
Terpopuler
- Link Download Gratis Ebook PDF Buku Broken Strings, Memoar Pilu Karya Aurelie Moeremans
- 5 Sampo Penghitam Rambut yang Tahan Lama, Solusi Praktis Tutupi Uban
- 5 Mobil Nissan Bekas yang Jarang Rewel untuk Pemakaian Jangka Panjang
- 4 Bedak Wardah Terbaik untuk Usia 50 Tahun ke Atas, Bantu Samarkan Kerutan
- Bukan Sekadar Wacana, Bupati Bogor Siapkan Anggaran Pembebasan Jalur Khusus Tambang Tahun Ini
Pilihan
-
Purbaya Sebut Bisnis Sektor Media Cerah: Saham DIGI, TMPO, dan VIVA Langsung Ceria
-
Dari 'Kargo Gelap' Garuda ke Nakhoda Humpuss: Kembalinya Ari Askhara di Imperium Tommy Soeharto
-
Tanpa Bintang Eropa, Inilah Wajah Baru Timnas Indonesia Era John Herdman di Piala AFF 2026
-
Hari Ini Ngacir 8 Persen, Saham DIGI Telah Terbang 184 Persen
-
Mengapa Purbaya Tidak Pernah Kritik Program MBG?