APINDO menilai tuntutan kenaikan upah minimum buruh yang menggunakan survei KHL tidak perlu dijadikan rujukan karena sudah tidak relevan dengan regulasi yang ada.
"Tuntutan tersebut tidak berdasarkan regulasi, tapi berdasarkan survei sendiri. Itu tidak perlu kita berikan atensi secara serius karena nanti akan menciptakan iklim pengupahan ini kurang kondusif," kata Adi.
Namun, Adi mengatakan buruh masih boleh menyampaikan tuntutannya karena itu hak para buruh.
Kenaikan masih wajar
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Hendri Saparini, mengatakan perdebatan soal penetapan upah minimum yang terus terjadi menjadi hal yang sulit, apalagi terjadi di tengah pandemi Covid-19, yang membuat kondisi ekonomi belum benar-benar pulih.
Pemerintah, kata dia, harus bisa menjelaskan situasi yang terjadi dengan lebih gamblang agar para buruh bisa menerima kenaikan upah yang dinilai Hendri masih wajar.
"Saya rasa itu sudah cukup wajar kalau misalnya ada pemahaman dari semuanya karena banyak sektor yang memang pertumbuhannya masih negatif. Hanya beberapa sektor saja yang sudah mulai tumbuh positif. Inflasi dari Januari sampai Oktober juga masih rendah di bawah 1%."
Hendri menambahkan kenaikan upah yang tinggi juga bisa menghambat pemulihan ekonomi. Jadi, dibutuhkan pemahaman dari semua pihak dalam menghadapi kondisi saat pandemi.
"Kalau kita mau pulih, terus kemudian ada beban dari kenaikan upah yang diminta untuk tinggi, maka akan menyulitkan untuk bergerak kembali. Akhirnya nanti yang akan kembali bukan di sektor produktif, bukan di sektor yang value added-nya lebih besar seperti manufaktur, tetapi yang bergerak akhirnya sektor perdagangan yang menyulitkan kita untuk create value added yang besar," kata dia.
Di sisi lain, Hendri menilai pemerintah juga harus bisa meredam kekhawatiran para buruh terkait biaya hidup yang terus meningkat. Jika pemerintah mampu mengendalikan biaya kebutuhan masyarakat, seperti biaya sewa atau beli rumah, biaya transportasi, atau harga pangan, menjadi masuk akal kalau peningkatan UMK tidak perlu terlalu tinggi.
Berita Terkait
-
Viral Arra Hina Buruh, Netizen Ungkap Gaji Besar Di Pabrik Bisa Capai 2 Digit!
-
Disinggung di Permintaan Maaf Orang Tua Arra, Benarkah Adab Harus Didahulukan Sebelum Ilmu?
-
Viral Arra Diduga Sindir Buruh Pabrik, Orangtua Kena Semprot Psikolog: Apa-apaan Ortu Begini!
-
Prabowo Minta Rp 1 Juta Buat BHR Ojol, Gojek Sanggup Rp 900 Ribu
-
Pasar Saham Indonesia Terjun Hebat, Lebih Parah dari IHSG Era Pandemi COVID-19?
Tag
Terpopuler
- Kode Redeem FF SG2 Gurun Pasir yang Aktif, Langsung Klaim Sekarang Hadiahnya
- Pemain Keturunan Indonesia Statusnya Berubah Jadi WNI, Miliki Prestasi Mentereng
- Pemain Keturunan Indonesia Bikin Malu Raksasa Liga Jepang, Bakal Dipanggil Kluivert?
- Jika Lolos Babak Keempat, Timnas Indonesia Tak Bisa Jadi Tuan Rumah
- Ryan Flamingo Kasih Kode Keras Gabung Timnas Indonesia
Pilihan
-
Masjid Agung Sleman: Pusat Ibadah, Kajian, dan Kemakmuran Umat
-
Ranking FIFA Terbaru: Timnas Indonesia Meroket, Malaysia Semakin Ketinggalan
-
Duel Kevin Diks vs Laurin Ulrich, Pemain Keturunan Indonesia di Bundesliga
-
Daftar Lengkap 180 Negara Perang Dagang Trump, Indonesia Kena Tarif 32 Persen
-
Detik-detik Jose Mourinho Remas Hidung Pelatih Galatasaray: Tito Vilanova Jilid II
Terkini
-
Dulu Turis Langsung ke Gili Trawangan, Kini Senggigi Dibidik: NTB Ubah Strategi Pariwisata
-
Meninggal di AS Saat Nyepi, Mahasiswi Asal Buleleng Ini Sempat Pesan ke Ayah Ibu Agar Tenang
-
Dianggap Rezeki, Nelayan Kuta Panen Ikan Layur, Sekali Melaut Puluhan Kilogram
-
Obat Rindu di Balik Jeruji: Lapas Lombok Barat Sediakan Video Call Gratis untuk Warga Binaan
-
Setelah Lebaran Harga Ayam dan Cabai di Bali Mulai Alami Penurunan