Untuk saling menghormati pelaksanaan ibadah masing-masing agama, para peserta ogoh-ogoh diminta untuk mengikuti aturan yang berlaku.
“Setelah shalat Jumat baru kita akan mulai pawainya. Ini tumben hari Jumat dan berdekatan dengan pawai takbiran. Pawai takbiran itu pada saat Hari Raya Nyepi. Tapi kan kita tidak tahu kapan, kalau umat muslim ini harus nunggu sidang isbat dulu,” katanya.
Menurutnya, meski sudah ada imbauan dari panitia pusat terkait aturan pawai ogoh-ogoh, tidak menyurutkan semangat untuk ikut meramaikannya.
Pasalnya, pawai ogoh-ogoh di hari Jumat ini juga menekankan tentang arti toleransi umat beragama di Kota Mataram.
Baca Juga:Pedasnya Harga Jelang Nyepi & Lebaran: Cabai Rawit di Bali Tembus Rp130 Ribu Per Kilogram
“Kita saling menghargai lah. Karena pawai ogoh-ogoh bertepatan dengan hari Jumat ya kita hargai sudara kita umat islam untuk shalat jumat dengan tidak ada bunyi-bunyian. Apalagi di sana dekat dengan masjid,” katanya.
Tahun ini ogoh-ogoh yang dibuat bertema Gatot Kaca.
Ogoh-ogoh yang berukuran cukup besar itu, menghabiskan anggaran sekitar Rp10 juta - Rp15 juta.
Anggaran yang digunakan bersumber dari beberapa sponsor dan urunan dengan para pengusaha yang ada di kawasan Cilinaya.
“Kalau tahun lalu kita buatnya itu bertema putri. Kita ada tiga sponsor tahun ini,” katanya.
Baca Juga:Kapolsek Kayangan Dicopot Buntut Kasus ASN Bunuh Diri Berujung Pembakaran Oleh Warga
Sementara itu, Dewa Tutaq mendukung adanya aturan selama pawai ogoh-ogoh. Sebagai bentuk toleransi umat beragama di Kota Mataram.