Selain dengan mesin hidrolik, ogoh-ogoh Laksmi Alaksmi juga menggunakan sejumlah bahan organik dan barang daur ulang.
Ogoh-ogoh lainnya yang juga menggunakan bahan daur ulang adalah ogoh-ogoh berjudul Sura Kasuran milik ST. Eka Pramana, Banjar Mertha Rauh, Desa Dangin Puri Kangin.
Sura Kasuran melambangkan tujuh sifat kegelapan manusia dalam kepercayaan Hindu yang dikenal dengan istilah Sapta Timira. Ogoh-ogoh tersebut mencontohkan tiga dari tujuh sifat tersebut yakni kegelapan akan ketampanan, kegelapan akan kekayaan, dan kegelapan akan kecerdasan.
Penggambaran tersebut juga dilengkapi dengan sosok raja yang dengan semena-mena membunuh rakyat biasa.
Baca Juga:Reaksi Warga Jepang Saat Lihat Penjor Galungan di Negaranya
Ogoh-ogoh ini menggunakan bahan daur ulang seperti kayu, bambu, hingga tisu. Bahan-bahan ogoh-ogoh seperti gabus atau Styrofoam tidak lagi digunakan karena tak bisa didaur ulang.
“Kalau dulu (membuat ogoh-ogoh dengan) gabus dan styrofoam. Sekarang tidak karena bekasnya kan tidak bisa dipakai, kalau ini bambu masih bisa walaupun sisa-sisa,” ujar Made Risky, salah satu anggota ST Eka Pramana.
Terdapat 12 ogoh-ogoh yang ditampilkan dalam kegiatan bertajuk Kasanga Festival ini. Festival yang diadakan setiap menjelang Hari Nyepi tersebut kembali melombakan para juara lomba ogoh-ogoh di 4 Kecamatan di Kota Denpasar.
Kontributor : Putu Yonata Udawananda
Baca Juga:Bak Jalankan Misi Rahasia, Kepala Anjing Ini Hitam Sedangkan Tubuhnya Cokelat