Festival Legong Keraton Lasem Akan Diselenggarakan di Pura Agung Jagatnatha Denpasar

Disebut legong lasem karena tarian ini mengambil kisah dari cerita Panji tentang kasih tak sampai Prabu Lasem terhadap Diah Rangkesari.

Eviera Paramita Sandi
Jum'at, 03 November 2023 | 09:37 WIB
Festival Legong Keraton Lasem Akan Diselenggarakan di Pura Agung Jagatnatha Denpasar
Tarian Legong Keraton Lasem. [Foto : Dok Humas Pemkot Denpasar]

"Semoga kegiatan ini dapat menjaring bibit-bibit serta generasi baru penari legong, khususnya Legong Keraton Lasem di Kota Denpasar," ucap Raka.

Sekilas Tentang Tari Legong

Melansir “The Origins of Balinese Legong” dimuat Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde (BKI) Vol. 164 No. 2/3, 2008 karya Stephen Davies, Legong lasem diciptakan oleh I Dewa Gde Rai Perit, seorang seniman dan bangsawan dari Gianyar, pada akhir abad ke-19.

Disebut legong lasem karena tarian ini mengambil kisah dari cerita Panji tentang kasih tak sampai Prabu Lasem terhadap Diah Rangkesari.

Baca Juga:4 Kontestan FIFA World Cup U17, Latihan di Training Centre Bali United Pantai Purnama

Legong awalnya bersifat sakral karena dipentaskan di halaman pura dan puri (istana) pada hari-hari tertentu.

Konon, para penarinya pun harus masih murni dan belum mengalami menstruasi. Namun kemudian legong keluar dari keraton dan dipentaskan di desa-desa, terutama pada upacara di pura, serta pada festival seni di Bali.

Tari legong memang memiliki banyak varian, seperti legong candra kanta, legong kuntul, legong goak macok, legong kupu-kupu tarum, dan lain-lain.

Nama variannya disesuaikan dengan cerita yang dikisahkan. Tapi yang popular dan kerap ditampilkan dalam pertunjukan wisata adalah tari legong lasem.

Baca Juga:Identik Jadi Hiasan di Kaos Bali, Ini Cerita Kesenian Barong Ket

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini

Tampilkan lebih banyak