facebook

Highlight Terpopuler News Lifestyle Indeks

Imbas Lockdown Ternak di Bali, Peternak Babi Ikut Merugi, Kini Muncul Kabar PMK Babi

Eviera Paramita Sandi Kamis, 07 Juli 2022 | 16:28 WIB

Imbas Lockdown Ternak di Bali, Peternak Babi Ikut Merugi, Kini Muncul Kabar PMK Babi
Ilustrasi babi dalam kandang. (Shutterstock)

Baru-baru ini berdasarkan informasi yang dihimpun, terdapat babi di beberapa kabupaten di Bali yang terserang PMK dengan gejala kuku lepas.

SuaraBali.id - Lockdown pengiriman hewan ternak ke luar daerah yang diterapkan Pemerintah Provinsi Bali imbas temuan penyakit mulut dan kuku (PMK) sapi berdampak pada peternak babi yang mengaku merugi karena penjualan daging babi merosot.

Bahkan menurut Peternak Hewan Monogastrik Indonesia (PHMI) Tabanan Bali ada indikasi menularnya wabah PMK ke Babi. Meskipun hal ini belum dikonfirmasi resmi oleh dinas terkait.

Ternak babi di Bali juga tidak bisa keluar Bali yang memaksa para peternak bermain di pasar lokal dan terjadi overpopulasi berdampak pada penurunan harga daging babi di Bali. Penurunan harga ini membuat peternak kelimpungan.

Hal ini disampaikan Koordinator Perkumpulan Peternak Hewan Monogastrik Indonesia (PHMI) Tabanan Bali, I Made Sukariyono alias Pak Deyon kepada wartawan di Tabanan, Bali, pada Kamis (7/7/2022).

Baca Juga: Ayah Mertua Happy Salma Menari Gunakan Topeng, Warganet Sebut Taksunya Terpancar

"Secara otomatis serapan babi di Bali hanya bisa dilakukan oleh pemotor lokal. Terjadi penumpukan populasi berimbas pada penurunan harga yang akan terus turun karena penyerapan pasar lokal terbatas, sementara harga tertinggi dilapangan Rp 39-40 ribu per kilogram dari normalnya Rp 45 ribu," kata Pak Deyon

Kendati begitu, sejatinya ia mendukung upaya pemerintah dalam mencegah meluasnya PMK pada ternak.

"Kami mendorong pemerintah untuk serius melakukan penjagaan lalu lintas di setiap pengiriman," ucap dia.

Pak Deyon sebagai peternak mengaku merugi karena operasional dan biaya pakan terus berjalan sementara harga jual menurun. Karena pasar Bali 90 persen dikirim ke Jakarat dan kini hanya berhenti di pasar lokal.

"Dampaknya sudah dirasakan, harga Pokok Penjualan (HPP) peternak dan harga babi yang cenderung turun membuat peternak merugi. Misalkan 200 ekor babi, dikirim ke Jakarta 150 ekor untuk lokal 50 ekor," bebernya

Baca Juga: Pelaku Coret-coret Tembok Pasar di Kuta Utara Ternyata Bule, Terekam Jelas di CCTV

Pak Deyon mempertanyakan lockdown PMK Sapi juga turut diterapkan pada ternak babi. Namun apakah juga muncul PMK pada babi?

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait